batampos.co.id – Pandemi Covid-19 membuat kondisi perekonomian tidak stabil dan memaksa masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam mengelola keuangan, khususnya para generasi milenial. Generasi ini dinilai konsumtif dalam pengelolaan keuangan, apalagi perputaran uang begitu cepat dengan kontribusi teknologi.

Jadi, pandemi ini merupakan momentum bagi generasi milenial untuk mengevaluasi gaya hidup mereka. Koordinator Sub Direktorat Perekonomian I Kemenkominfo, Eko Slamet Riyanto memaparkan, budaya cashless ini sangat mempercepat pergerakan uang, apalagi bagi para milenial yang akhirnya berujung konsumtif.

“Pandemi Covid-19 mendorong kita semua untuk menerapkan budaya cashless. Berdasarkan data Bank Indonesia, selama bulan Desember saja nilai transaksi uang elektronik meningkat 30,44 persen dengan nilai transaksi digital mencapai Rp 2.775,5 triliun,” ujarnya dalam keterangannya, Selasa (23/3).


Meski begitu, mereka juga tetap sadar akan pengelolaan keuangan karena mereka juga sangat akrab dengan perusahaan financial technology (fintech). Sebesar 66,38 persen lender berusia 19-34 tahun dan sebesar 67,19 persen borrower juga berusia 19-34 tahun.

“Berdasarkan data yang ada, generasi milenial dengan usia 26-35 tahun lebih mendominasi pengajuan Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Jadi tidak hanya pengeluaran yang konsumtif, tetapi generasi saat ini sudah memikirkan masa depan dengan melakukan konsumsi yang produktif,” ujar Direktur Informasi dan Komunikasi Perekonomian dan Maritim Kemenkominfo, Septriana Tangkary.

Oleh karena itu, perlu tips perencanaan keuangan. Yakni membuat dan menggunakan prioritas anggaran berdasarkan besaran nominal, bukan dari persentase anggaran dan sesuaikan dengan kewajiban, kebutuhan dan keinginan.

“Bedakan antara kebutuhan dan keinginan. Bagaimana membedakannya? Mudahnya, keinginan kalau ditunda tidak ada dampak signifikan pada diri kita. Sedangkan kebutuhan kalau ditunda akan berdampak pada kehidupan sehari-hari,” ungkap Chief Marketing Officer Finansialku.com, Mario Agustian Lasut.(jpg)