batampos.co.id – Aktivitas transaksi secara online masyarakat Kepri terus meningkat selama pandemi Covid-19 berlangsung.

Data yang dihimpun Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri, Januari 2021 saja jumlah transaksinya mencapai 1,8 juta kali.

“Lebih tepatnya mencapai 1.790.436 kali transaksi, dengan nilai transaksi mencapai Rp 166.805 juta (Rp 166,8 miliar). Aktivitas digital memang tengah menguat di tengah masyarakat saat pandemi ini,” kata Kepala Bank Indonesia Perwakilan Kepri, Musni Hardi, Rabu (24/3/2021) seperti yang diberitakan Harian Batam Pos.


Peningkatan tersebut disumbang oleh bertambahnya jumlah merchant yang menggunakan QRIS di Kepri. Hingga awal Maret 2021, jumlah merchant QRIS sudah mencapai 57.132.

“Jumlahnya meningkat hampir tiga kali lipat dibanding awal 2020 lalu. Saat ini, memang terjadi pergeseran ke arah transaksi digital. Kami harapkan semakin ke depan akan semakin mengalami peningkatan,” tuturnya.

Selama pandemi, sambungnya, BI Kepri juga melakukan pengelolaan keuangan yang higienis.

Uang yang masuk ke BI didesinfektan dan dikarantina terlebih dahulu sebelum diedarkan kembali ke masyarakat.

Apalagi, mengingat kebutuhan uang saat Lebaran nanti diperkirakan akan meningkat. Bukan hanya di Kepri, secara nasional, selama pandemi Covid-19, aktivitas transaksi lebih banyak dilakukan secara digital.

Sebab, akses masyarakat yang terbatas, sehingga transaksi digital jadi pilihan terbaik.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, sebelumnya mengatakan bahwa transaksi keuangan dan pembayaran digital terus tumbuh.

Itu tercermin dari nilai transaksi uang elektronik pada Desember 2020 yang mencapai Rp 22,1 triliun atau tumbuh 30,44 persen yoy (year on year).

Sedangkan volume transaksi digital banking pada Desember 2020 mencapai 513,7 juta transaksi atau tumbuh 41,535 persen (yoy).

Kemudian, nilai transaksi digital banking mencapai Rp 2.774,5 triliun atau tumbuh 13,91 persen.

“Transaksi ekonomi dan keuangan digital ini terus tumbuh ditopang banyaknya masyarakat yang menggunakan platform e-commerce dan instrumen digital lainnya semasa pandemi,” kata Perry, belum lama ini.

Ia menjelaskan, transaksi digital banking Rp 2.774,5 triliun pada Desember 2020 tersebut, melebihi anggaran belanja negara pada APBN 2020 maupun APBN 2021, yang masing-masing sebesar Rp
2.739,2 triliun dan Rp 2.750 triliun.

Bank Indonesia memperkirakan tren digitalisasi akan terus berkembang pesat.

“Itu tadi, didukung dengan perluasan ekosistem ekonomi dan keuangan digital yang semakin inklusif.”

Sementara itu, untuk Uang Kartal Yang Diedarkan (UYD) pada Desember 2020 mencapai Rp 898,9 triliun, tumbuh 13,25 persen (yoy), seiring aktivitas ekonomi yang semakin membaik.

Sedangkan nilai transaksi pembayaran menggunakan ATM, kartu debit, dan kartu kredit pada Desember 2020 tercatat Rp 695,5 triliun, kembali tumbuh 1,36 persen (yoy), setelah kontraksi pada November 2020 sebesar 1,93 persen (yoy).

Perry meyakinkan, BI akan terus mengakselerasi kebijakan digitalisasi sistem pembayaran untuk pembentukan ekosistem ekonomi dan keuangan digital yang inklusif dan efisien.

Langkah ini juga dalam rangka mendukung percepatan pemulihan ekonomi nasional.

Langkah yang dilakukan BI dalam akselerasi kebijakan digital, antara lain, melakukan perluasan merchant QRIS menjadi 12 juta.

Kemudian, perluasan fitur QRIS transfer, tarik, dan setor. Lalu, menetapkan Merchant Discount Rate Uang Elektronik (MDR UE) Chip Based yang berlaku efektif 1 Maret 2021 dan implementasi Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2025.

“Dengan langkah-langkah ini, kami yakin transaksi digital ke
depan akan semakin tumbuh pesat,” ujar Perry.(jpg)