batampos.co.id – Kenaikan harga cabai diperkirakan berlangsung sampai beberapa bulan ke depan. Dosen agrobisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor (IPB) Feryanto memperkirakan April sampai Mei depan harga cabai tetap tinggi.

Dosen yang akrab disapa Fery itu mengatakan, Kementerian Pertanian (Kementan) menyebutkan, bakal terjadi panen besar komoditas cabai merah maupun keriting pada April. Tetapi, momentumnya bertepatan dengan bulan puasa.

Fery memprediksi pada bulan Ramadan dan Lebaran nanti tingkat permintaan cabai mengalami kenaikan. ”Saya perkirakan sekitar 15 sampai 20 persen peningkatan permintaannya,” ujar dia kemarin (23/3). Karena itu, musim panen cabai pada April belum bisa menekan harga kembali landai di kisaran Rp 60 ribu sampai Rp 70 ribu per kg.


Gejolak harga cabai yang luar biasa tahun ini, jelas Fery, dipicu keterbatasan stok. Penyebabnya, antara lain, di pengujung 2020, tepatnya pada September sampai November lalu, petani yang biasanya menanam cabai beralih ke tanaman lain. Kebetulan saat itu ada komoditas lain yang harganya lebih kompetitif daripada cabai.

Kondisi itu diperparah curah hujan yang tinggi pada Januari 2021. Banyak lahan di sentra produksi cabai yang terendam banjir. ”Dampaknya, musim tanam menjadi mundur,” ucapnya. Petani baru menanam cabai di akhir Januari atau bahkan di awal Februari.

Fery menuturkan, ada sejumlah cara yang bisa diterapkan ke depannya supaya harga cabai tetap stabil. Di antaranya adalah melakukan pembagian musim tanam. Sehingga tidak semua petani di sentra cabai menanam pada waktu yang sama. Dengan cara itu stok cabai bisa terjaga dan harga jual di petani tetap kompetitif.(jpg)