batampos.co.id – Berbagai persiapan terus dilakukan untuk menyambut kedatangan wisatawan mancanegara (wisman) ke kawasan Nongsa (Batam) dan Lagoi (Bintan).

Salah satunya, persiapan penggunaan teknologi BluePass yang akan dikenakan semua wisman yang masuk untuk melacak pergerakannya.

“Aplikasi pelacak mobilitas wisatawan mancanegara berupa BluePass ini harus dipersiapkan sebaik mungkin,” ujar Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, saat rapat lanjutan membahas persiapan penerapan Safe Travel Corridor yang akan dimulai 21 April mendatang, dengan berbagai pihak dan pelaku wisata di Batam-Bintan, Sabtu (20/3) lalu.


Sandi menjelaskan, BluePass sendiri sudah digunakan di Singapura untuk melacak kontak dari pasien positif Covid-19 selama pandemi. Dari alat ini, petugas kesehatan bisa mengetahui siapa saja yang sudah melakukan kontak dengan pasien positif, sehingga dapat mencegah penyebaran yang lebih masif.

BluePass dibuat dengan teknologi Bluetooth Low Energy (BLE) yang dianggap cocok untuk pelacakan kontak. Selain aman digunakan, teknologi BLE ini hemat energi dan membuat baterai BluePass dapat bertahan 12 bulan.

BluePass memiliki dimensi yang tidak terlalu besar dan dapat dimasukkan ke saku celana atau ditempel di tas, seperti gantungan kunci. Bobotnya ringan, tahan air dan diklaim tidak mudah rusak, serta tidak perlu perawatan yang berat.

BluePass bekerja secara otomatis mendeteksi perangkat yang digunakan pengguna lain dalam jarak sekitar 3 meter. Dengan kurun waktu sekitar 10 menit, BluePass yang saling berdekatan akan bertukar data dan menggolongkannya sebagai kontak erat.(*/jpg)