batampos.co.id – Bea Cukai Batam bersama Subdit Narkotika Direktorat Jenderal Bea Cukai dan Bareskrim Mabes Polri, mengamankan 43.795 butir esktasi senilai Rp 9 miliar dari seorang pria berinisial A di Pantai Tanjungpiayu, Seibeduk, 20 Maret lalu.

Ekstasi itu diselundupkan dari Malaysia melalui jalur laut. Kepala Kantor Bea dan Cukai Batam, Susila Brata, menyampaikan bahwa penangkapan ini bermula dari informasi yang didapat petugas.

”Masuknya informasi ini, tim gabungan dari tim gabungan Bea Cukai Batam, Subdit Narkotika Dirjen BC serta Bareskrim Mabes Polri menindaklanjuti informasi tersebut,” katanya, Kamis (25/3/2021) seperti yang diberitakan Harian Batam Pos.


Setelah ditelusuri, tim gabungan mendapatkan petunjuk barang haram itu akan datang melalui Pantai Tanjungpiayu.

Tim gabungan melakukan pengintaian dan pengawasan di tempat masuknya puluhan ribu ekstasi tersebut.

Ilustrasi. Narkotik jenis ekstasi. Foto: Cecep Mulyana/Batam Pos

Selang tak berapa lama, petugas menemukan satu tas besar berwarna hijau. Tim gabungan, kata Susila, mencari tahu orang yang akan menjemput tas itu.

Tak berapa lama, datang seorang pria berinisial A, yang berniat
membawa tas berisi ekstasi tersebut.

”Kami dapat mengamankan A, dan melakukan control delivery (pengiriman terkontrol),” ucapnya.

Dari kegiatan control delivery ini, tim gabungan mengamankan Fk dan Ma di Utama Houseware, Lubukbaja, Batam, di hari yang sama, Sabtu (20/3/2021).

Fk dan Ma bertugas mengambil tas dari A, dan nantinya akan membawa barang haram ini setelah ada perintah selanjutnya dari sang bandar.

Susila menerangkan, di dalam tas berwana hijau ini terdapat sembilan bungkus narkoba jenis ekstasi, dengan berat 13,1 kilogram.

Selain itu, tim gabungan juga mengamankan barang bukti berupa 3 unit ponsel dan 2 unit sepeda motor yang digunakan pelaku.

”Saat ini, tersangka dan barang bukti telah dibawa ke Bareskrim Mabes Polri untuk diproses secara hukum lebih lanjut,” ucap Susila.

Ketiga penyelundup narkoba tersebut, dijerat dengan menggunakan pasal 114 ayat dua atau pasal 112 ayat dua juncto pasal 132 ayat satu, Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

”Ancaman pidana mati atau penjara seumur hidup, atau paling singkat 6 tahun dan paling lama 20 tahun, serta pidana denda maksimum Rp 10 miliar,” ungkap Susila.(jpg)