batampos.co.id – Bagaimana caranya memindahkan kapal raksasa seberat 220 ribu ton dan sepanjang 400 meter yang melintang di sebuah terusan yang sibuk? Barangkali sama sulitnya dengan menjawab ”pertanyaan” band U2 yang diajukan lewat judul albumnya: How to Dismantle an Atomic Bomb (Bagaimana Cara Memereteli Sebuah Bom Atom)?

Ya, sampai Kamis (25/3) Terusan Suez, Mesir, masih terblokir. Besar kemungkinan situasinya tidak akan berubah dalam beberapa hari, bahkan mungkin beberapa pekan ke depan.

Kapal kontainer raksasa MV Ever Given yang kandas dengan posisi diagonal Selasa (23/3) belum berhasil dibebaskan. Itu membuat terusan sepanjang 193,3 kilometer yang merupakan rute sibuk perdagangan dunia tersebut tertutup sepenuhnya. Setidaknya ada 150 kapal yang kini terjebak dan tak bisa kemanapun.


MV Ever Given adalah kapal berbendera Panama milik perusahaan asal Jepang Shoei Kisen KK. Kapal yang dioperasikan perusahaan asal Taiwan, Evergreen Marine Corp, tersebut melewati terusan Suez ketika badai pasir melanda sebagian besar wilayah Timur Tengah, termasuk Mesir. Saat itu angin mencapai 74 kilometer per jam.

’’Kecelakaan itu kemungkinan karena kurangnya jarak pandang akibat cuaca,’’ bunyi pernyataan Otoritas Terusan Suez (SCA) seperti dikutip Agence France-Presse.

Kapal kargo MV Ever Given yang menghadang arus lalu lintas di Terusan Suez dekat Suez, Mesir, Kamis (25/3). (SUEZ CANAL AUTHORITY VIA AP)

Kapal yang berlayar dari Yantian, Tiongkok, menuju Pelabuhan Rotterdam, Belanda itu hilang kendali dan akhirnya terjebak dengan posisi melintang. Sebanyak 25 kru di dalamnya tidak terluka, kargo mereka aman, tidak ada kebocoran minyak, dan kapal itu sama sekali tidak rusak.

Sejak kecelakaan SCA berusaha membebaskan MV Ever Given dengan bantuan beberapa kapal penarik. Pasir di ujung bawah kapal yang memiliki panjang 400 meter itu juga dikeruk. Sayangnya, usaha itu tidak membuahkan hasil apapun.

Kapal dari kelas megaship itu sama sekali tidak bergerak. Situasi kian tidak mendukung karena Rabu (24/3) air laut tengah surut.

’’Kami masih belum tahu sampai kapan situasi ini akan berlangsung,’’ ujar Pejabat di Shoei Kisen Kaisha Toshiaki Fujiwara.

SCA kemarin (25/3) akhirnya memutuskan bahwa mereka menghentikan sementara navigasi kapal untuk melalui terusan Suez. Mereka menyatakan sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membebaskan MV Ever Given.

Kapal-kapal yang masih berencana untuk melewati terusan tersebut kini harus memutar dengan rute yang lebih jauh melewati ujung benua Afrika. Selama ini Terusan Suez menjadi jalan pintas bagi kapal dari Asia menuju Eropa ataupun sebaliknya.

Sekitar 10 persen perdagangan maritim global melewati terusan yang menghubungkan laut Merah dan Laut Mediterania tersebut. Mayoritas kapal-kapal tersebut membawa minyak dan biji-bijian.

Insiden tersebut langsung menghantam pasar minyak dunia. Para pedagang mengantisipasi adanya penundaan pengiriman karena kapal-kapal yang terjebak maupun mereka yang harus memutar lebih jauh.

Rabu (24/3) harga minyak mentah berjangka sudah naik 6 persen. Minyak mentah berjangka adalah kontrak standar yang diperdagangkan di bursa. Pembeli setuju untuk menerima pengiriman dari penjual minyak mentah dalam jumlah tertentu dengan harga yang telah ditentukan pada tanggal pengiriman di masa depan.

’’Kami tidak pernah melihat situasi seperti ini sebelumnya,’’ ujar Ranjith Raja, peneliti minyak dan perkapalan Timur Tengah di perusahaan data finansial internasional Refinitiv.

Dia meyakini butuh waktu lama untuk menyelesaikan kemacetan tersebtu dan itu akan berdampak pada kapal-kapal lain yang mengantri di belakangnya.

Mulai kemarin pemerintah Mesir sudah menambah 8 kapal lagi untuk menarik MV Ever Given. Jika usaha itu terus tak membuahkan hasil, maka beberapa kargo di atas kapal harus diturunkan. Harapannya kapal menjadi lebih ringan dan bisa mengapung kembali.

Perusahaan penyelamat dari Belanda Smit Salvage mengirimkan tim ke Mesir. Mereka dulu terlibat dalam misi penarikan bangkai kapal selam tenaga nuklir milik Rusia yang meledak, Kursk dan juga kapal pesiar Italia, Costa Concordia. CEO Boskalis Peter Berdowski mengungkapkan bahwa berbagai perhitungan kompleks harus dilakukan sebelum memulai aksi. Boskalis adalah induk perusahaan Smit Salvage.

’’Saya tidak ingin berspekulasi, tapi itu mungkin butuh waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu,’’ ujarnya.

Di lain pihak, Shoei Kisen KK dan perusahaan asuransi penjaminnya harus mulai berhitung. Sebab misi penyalamatan ini tentu saja tidak gratis. Gara-gara insiden ini, SCA juga kehilangan pendapatan dari kapal-kapal lain yang seharusnya melalui terusan Suez.

Kapal sebesar MV Ever Given kemungkinan diasuransikan sebesar USD 100 juta-140 juta untuk kerusakan lambung dan mesin. Kapal tersebut diasuransikan di pasar Jepang. Perusahaan asuransi itulah yang akan menanggung biaya proses penyelamatan.

’’Ini berpotensi menjadi bencana kapal kontainer terbesar di dunia tanpa ada kapal yang meledak,’’ kata seorang pengacara perkapalan yang menolak disebutkan namanya.(jpg)