batampos.co.id – Kinerja ekspor Kepri terus mengalami perbaikan di awal tahun ini. Februari lalu, nilai ekspor Kepri mencapai 1.203,68 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau naik 7,37 persen dibanding Januari 2021.

Secara kumulatif, ekspor Kepri di Februari 2021 jauh lebih baik dari Februari 2020 karena naik 8,87 persen.

“Penyebab ekspor naik karena ekspor non migas yang mencapai USD 963,91 juta atau naik 9,43 persen dibanding Januari 2021. Sementara ekspor migas justru turun 0,16 persen,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri, Agus Sudibyo, Jumat (26/3/2021) seperti yang diberitakan Harian Batam Pos.


Dua bulan awal 2021, total ekspor mencapai 2.324,70 juta dolar AS. Nilainya naik 7,84 persen dari periode yang sama di tahun sebelumnya.

Ekspor awal tahun ini terdiri dari ekspor non migas sebanyak 1.844,76 juta dolar AS, dan ekspor migas sebesar 479,94 juta dolar AS.

Selama Januari hingga Februari 2021, komoditas ekspor non migas terbesar yakni golongan barang mesin/peralatan listrik sebesar 645,99 juta dolar AS.

Kontribusinya mencapai 35,02 persen. Berikutnya, bahan bakar
mineral (non migas) sebesar 294,73 juta dolar AS dengan kontribusi 15,98 persen.

Barang ekspor non migas andalan Kepri lainnya yakni minyak dan lemak hewan/nabati, mesin-mesin pesawat mekanik, produk kimia, benda-benda besi dan baja, perangkat optik, cokelat, plastik, dan barang dari plastik, serta kendaraan dan bagiannya.

Sedangkan negara tujuan ekspor terbesar masih ke Singapura dengan nilai ekspor mencapai 564,13 juta dolar AS atau 30,58 persen dari total ekspor non migas selama Januari – Februari 2021.

Meski begitu, ekspor ke Singapura mengalami penurunan 4,19 persen di banding Januari-Februari tahun lalu.

Berikutnya ke Tiongkok sebanyak 435,58 juta dolar AS, dengan peranan sebesar 23,61 persen.

BPS mencatat ekspor ke Negeri Tirai Bambu ini mengalami kenaikan cukup pesar, yakni mencapai 113 persen.

Sedangkan ekspor ke Amerika menempati titik berikutnya, dengan nilai ekspor mencapai 309,53 juta dolar AS.

Sayangnya, ekspor ke Amerika Serikat ini mengalami penurunan 6,60 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Menanggapi kinerja ekspor yang terus meningkat, Wakil Ketua Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri, TJaw Hioeng, mengatakan, meski mengalami peningkatan, justru sebenarnya ekspor Kepri masih kalah dibandingkan beberapa tahun yang lalu.

“Turunnya sekitar minus enam persen dibandingkan 2019,” ujarnya.

Ia berharap, kinerja ekspor di Kepri terus meningkat, terutama menuju tiga negara mitra utama, yakni Singapura, Tiongkok, dan Amerika.

“Nah, kami harapkan tren ini terus berlanjut hingga akhir 2021. Kalau terus berlanjut, maka yakinlah ekonomi Kepri bisa tumbuh di kisaran tiga hingga persen,” ungkapnya.

Menurut Tjaw, peningkatan ekspor ke Tiongkok itu terjadi karena peningkatan permintaan produk nabati dan mineral.

Sehingga harus terus didorong sektor industri yang mengolah barang jenis ini.

“Kinerja industri pengolahan di Kepri ini didominasi mesin peralatan listrik, mesin pesawat dan mekanik, barang minyak dan lemak hewan, produk kimia, industri makanan cokelat dan perangkat optik. Enam sektor ini yang menguasai industri pengolahan,” pungkasnya.(jpg)