batampos.co.id – Pemerintah mewajibkan sekolah untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) apabila semua pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) di satuan pendidikan tersebut telah tervaksinasi. Hal ini dikukuhkan melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) Empat Menteri.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Menengah (Dirjen PAUD Dikdasmen) Jumeri pun memberikan opsi penerapan praktik baik di dalam pelaksanaan PTM.

“Beberapa contoh praktik baik yang bisa disampaikan, ada banyak praktek baik di antaranya SDN 03 Pontianak Selatan, sekolah ini sudah melakukan PTM dan punya praktik baik yang bisa kita tiru,” kata dia dalam Pengumuman Keputusan Bersama tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19, Selasa (30/3).


Persiapan yang dilakukan sebelum melakukan PTM adalah membentuk Satgas Covid19 Sekolah yang terdiri dari guru dan karyawan, sekolah juga mempersiakan SOP. Kemudian juga melakukan pemenuhan daftar periksa, lalu menyediakan sarana-prasarana kebersihan hingga bekerjasama dengan puskesmas.

“Memakai masker, mengatur jarak menyingkirkan meja yang tidak terpakai dan juga membuat selebaran himbauan kepada warga sekolah untuk menjaga kesehatan. Bahkan, sampai memberitahukan rencana PTM kepada RT, kelurahan dan orang tua serta melaporkan kesiapan uji coba PTM kepada pemerintah setempat,” ujarnya.

Untuk memastikan PTM terbatas berlangsung secara aman, kepala sekolah meminta guru melakukan rapid test secara berkala, memastikan dan mendata guru, tenaga kependidikan dan murid yang sakit tidak perlu masuk ke sekolah.

“Yang tidak enak badan tetap di rumah, melaksanakan 3M dan memastikan tidak ada yang masuk ke lingkungan sekolah tanpa izin, semua pihak yang masuk harus diperiksa suhu dan kesehatannya, kemudian mengecek suhu setiap warga sekolah setiap datang dan pulang sekolah. Mengimbau guru dan tenaga pendidikan untuk mengikuti vaksinasi seusai ketentuan pemerintah,” jelasnya.

Terkait dengan pembagian rombongan belajar (rombel) di sekolah, Jumeri menjelaskan bahwa mereka menerapkan kapasitas 50 persen dalam 1 rombel. Di mana masing-masing rombel menjalankan PTM 2 hari dalam 1 minggu, siswa nomor urut absen 1–16 masuk hari Senin dan Rabu, siswa 17–32 masuk Selasa dan Kamis.

“Sekolah ini hanya menerapkan dua hari pembelajaran tatap muka, berapa jam PTM, satu kali PTM itu berlangsung 3 jam, yaitu 7 sampai 10, karena setiap rombel melakukan dua kali pertemuan dalam satu minggu, maka melakukan PTM di sekolah itu 6 jam seminggu, jam masuk dan keluar dibuat selang seling dengan jeda beberapa menit supaya antara yang datang dan yang pulang tidak bertemu,” tambah dia.

Sementara itu, di SMAN 9 Bengkulu Selatan, persiapan sebelum PTM terbatas adalah sekolah mempersiapkan kurikulum di kondisi khusus, melakukan pengadaan protokol kesehatan, hingga penyediaan sarana dan prasana pendukung. Kemudian sekolah ini mempersiapkan ruang belajar maksimal 50 persen dalam satu kelas, mempersiapkan sarana fisik sekolah hingga melarang kerumunan di sekolah.

“Bagaimana sekolah memastikan agar PTM berlangsung aman, sekolah memastikan kepatuhan 3M, tidak membuka kantin dan tidak ada kegiatan kerumunan, menjaga iman, aman dan imun, menyiapkan alat cuci tangan di setiap sekolah, tidak ada jam istirahat, hanya pembelajaran saja,” jelas dia.

Lalu untuk pembagian rombel dibagi dua shift, yakni pagi dan siang, untuk kelas 12 di hari Senin dan Kamis, Selasa dan Jumat kelas 11, kemudian di Rabu dan Sabtu kelas 10. Adapun total belajar dalam kelas adalah 4 jam 30 menit.

“Karena jam belajar itu berkurang, ditambah PJJ menggunakan berbagai platform, seperti google classroom, WhatsApp Group dan yang lain, ada juga penugasan lewat buku-buku. Kita berharap praktik baik ini, PTM kita dapat berlangsung dengan aman dan tidak ada penyebaran Covid di satuan pendidikan,” tutur Jumeri. (*/jpg)