batampos.co.id – Menjadikan vaksinasi guru sebagai syarat pembelajaran tatap muka (PTM) dinilai kurang tepat. Sebab, risiko penularan Covid-19 akan tetap ada ketika kerumunan terjadi.

Epidemiolog dari Universitas Indonesia (UI) Tri Yunis Miko menegaskan, pembukaan sekolah tidak bisa dilakukan hanya dengan mengandalkan vaksinasi guru. Harus dipastikan pula positivity rate di daerah tersebut. ”Kalau positivity rate di atas 10 persen, sekolah jangan dibuka,” tegasnya saat dihubungi kemarin (31/3).

Menurut dia, dengan diketahuinya besaran positivity rate, diketahui pula perbandingan jumlah kasus positif dengan jumlah tes yang dilakukan.


Senada, dokter dan PhD candidate in medical science at Kobe University Adam Prabata menjelaskan, berdasar penelitian dan rekomendasi CDC, pembukaan sekolah kembali disarankan bila sejumlah hal bisa dilakukan dengan baik.

Di antaranya, pemeriksaan PCR skala besar terhadap orang yang bergejala, tracing efektif, isolasi pasien positif Covid-19, tindakan mitigasi optimal bisa segera dilakukan bila ada kasus positif Covid-19 di sekolah, serta vaksinasi terhadap guru dan karyawan.

Dia memberi gambaran soal risiko Covid-19 kepada anak. Menurut dia, risiko anak yang positif Covid-19 untuk dirawat inap 20 kali lebih rendah daripada pasien dewasa. Risiko kematian anak pun sangat rendah jika dibandingkan dengan usia yang lebih tua. Namun, satu di antara tiga anak dengan Covid-19 yang dirawat inap berisiko masuk ICU. Mereka juga berisiko mengalami multisystem inflammatory syndrome.(jpg)