batampos.co.id – Lelang Sistem Pengelolaan Air Minum (SPAM) Batam direncanakan digelar Mei mendatang. Di saat yang sama, masa transisi pengelolaan air bersih oleh Moya Indonesia berakhir, tepat 15 Mei 2021.

Namun, lambatnya penyelenggaraan lelang SPAM Batam, membuat BP Batam memperpanjang masa transisi dengan memperpanjang kontrak Moya tiga bulan lagi.

Mengenai keterlambatan lelang, Kepala BP Batam, Muhammad Rudi, mengaku bahwa lelang harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya.


Langkah yang ia lakukan adalah dengan menggunakan jasa konsultan luar negeri untuk memastikan BP Batam mendapatkan manfaat besar dari kerja sama konsesi dengan operator SPAM Batam yang baru nanti.

”Dalam materinya nanti, ketika saya tanda tangan selama 25 tahun, saya tidak mau di akhir atau 10 tahun ke depan, BP Batam dirugikan. Saya tidak ingin terulang lagi, pengalaman yang lalu,” paparnya, Kamis (2/4) sore di Gedung Marketing Center BP
Batam.

Sejumlah warga Kota Batam mengantre untuk pelayanan du kantor pusat SPAM Batam. Foto: Dhiyanto/batampos.co.id

Perhitungan yang ia maksud, akan dikalkulasikan sesuai dengan pertumbuhan inflasi dan kondisi ekonomi Batam ke depannya.

”Yang saya tandatangani ini nanti betul-betul untuk kenaikan pertumbuhan pendapatan BP Batam. Ini tidak boleh keliru menghitungnya, sehingga nanti di akhir konsesi, BP Batam tidak boleh nombok,” katanya.

“Misalnya hari ini dapat Rp 50 miliar, tapi kalau tidak dihitung inflasi, itu akan jadi masalah ke depan. Karena ketika sudah MoU, maka akan berlaku untuk 25 tahun mendatang,” jelasnya lagi.

Waktu pertama kali memimpin BP Batam, Rudi mengaku kecewa karena BP Batam hanya mendapatkan Rp 28 miliar per tahun dari operator sebelumnya.

”Pertama saya masuk, saya ngomel. Ini namanya nombok. Untuk memperbaiki dam saja, itu sudah jadi masalah,” ungkapnya.

Karena keterbatasan dana tersebut, air pun sering mati bergilir, karena waduk kurang diurus.

”Rp 28 miliar untuk bangun dam, cukup tidak. Tidak cukup itu,” tegasnya.

”Karena ini untuk kepentingan rakyat, kami akan berusaha. Tidak untung pun tidak masalah, tapi jangan nombok. BP Batam maunya untung, sehingga lelang belum dibuka. Mungkin bulan depan akan dibuka. Makanya dicari solusi terbaik,” jelasnya lagi.

Ia juga memaklumi pelayanan Moya Indonesia yang dianggap kurang maksimal oleh masyarakat Batam.

”Hari ini banyak yang komplain itu wajar. Karena Moya kontraknya enam bulan, ditambah tiga bulan. Mana mau dia
investasi terlalu besar. Nanti kalau sudah kontrak 25 tahun,
pasti lain cerita,” ujarnya.

“Dan saya yakin akan sempurna. Baru masuk saja, menurut saya
persoalannya hanya kecil, dan bisa diatasi. Jadi, nanti tinggal
lanjut saja, siapa yang menang,” paparnya lagi.

Sementara itu, mengenai perpanjangan kontrak Moya untuk masa transisi selama tiga bulan, Rudi mengaku sudah mengkonsultasikannya dengan Kejaksaan Tinggi.

”Kalau Moya sudah habis Mei nanti, akan diperpanjang tiga bulan. Ada suratnya dari Kejaksaan Tinggi kita minta,” jelasnya.(jpg)