batampos.co.id – Korban dan kerusakan yang ditimbulkan akibat amukan siklon tropis Seroja di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) terus bertambah. Sampai pukul 21.00 WIB tadi malam (6/4), sebanyak 117 orang ditemukan meninggal dan 76 lainnya masih hilang.

Selain itu, dua orang dilaporkan menjadi korban jiwa dalam bencana banjir di Kabupaten Bima, NTB. Total korban luka sebanyak 146 jiwa. Jumlah pengungsi mencapai 2.019 kepala keluarga (KK) atau 8.424 jiwa. Secara keseluruhan, terdapat 1.992 bangunan yang terdampak bencana tersebut. Ada yang rusak berat, sedang, hingga ringan.

Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta melaporkan bahwa siklon tropis Seroja kemarin pukul 13.00 WIB berada pada 220 km sebelah selatan barat daya Waingapu. Bergerak dengan kecepatan 4 knot (7 km/jam) menjauhi wilayah Indonesia. Sementara itu, Seroja hari ini pukul 13.00 WIB diperkirakan berada 535 km sebelah barat daya Waingapu dan bergerak menjauhi wilayah Indonesia.


Korban tewas paling banyak ditemukan di Kabupaten Flores Timur, yakni 60 orang meninggal dan 12 lainnya hilang. Disusul Kabupaten Lembata dengan 28 orang meninggal dan 44 orang masih dalam pencarian. Kabupaten Alor mencatatkan 21 orang meninggal dan 20 orang hilang.

Siklon tropis Seroja merusak jalan-jalan di Dili, Timor Leste. (KANDHI BARNEZ/AP PHOTO)

Kepala BNPB Doni Monardo mengungkapkan, hingga kini pencarian korban terus dilakukan. Kendala terbesar adalah ketersediaan alat berat. Meskipun sudah disiapkan, alat-alat berat belum bisa dikirim ke tujuan, terutama ke Kecamatan Adonara dan beberapa titik di Kabupaten Lembata.

Doni mengatakan, Presiden Jokowi telah memberikan arahan agar dilakukan berbagai upaya untuk mencegah persebaran Covid-19 di pengungsian. Karena itu, BNPB berusaha agar para pengungsi tidak terlalu lama tinggal di pengungsian. ”Kami akan berikan fasilitas dana hunian kepada warga terdampak. Per keluarga Rp 500 ribu. Mereka bisa menyewa rumah-rumah kerabat dan keluarga terdekat,” jelas Doni.

Bantuan logistik dari Jakarta, Surabaya, dan Makassar sudah bisa didistribusikan ke Adonara, Lembata, dan Alor. BNPB telah menyiagakan enam helikopter. Sebab, beberapa kawasan belum bisa dijangkau transportasi darat dan laut.

”Semoga besok sudah semakin cerah, jarak pandang semakin jauh, angin tidak terlalu kencang. Daerah-daerah yang terisolasi harus segera mendapat bantuan,” jelas Doni. Untuk mempercepat evakuasi korban yang tertimbun, akan didatangkan sejumlah unit SAR dengan anjing pelacak.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo meminta proses evakuasi korban dipercepat. Jokowi juga meminta Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengerahkan alat-alat berat dari berbagai lokasi sekitar untuk memudahkan pencarian korban. ’’Apabila jalur darat masih sulit ditembus, lakukan percepatan pembukaan akses laut dan udara yang terputus,’’ tegasnya.

Jokowi juga menginstruksi Basuki mempercepat perbaikan jembatan yang roboh dan akses lain yang putus. Selain itu, segera memulihkan jaringan listrik dan internet. ’’Segera pulihkan sehingga bantuan dapat tersalurkan ke masyarakat yang menjadi korban bencana,’’ ujarnya.

Pemenuhan kebutuhan logistik, sanitasi, dan lainnya bagi para pengungsi juga harus diperhatikan dengan baik. Sejak hari pertama bencana di NTT dan NTB, pemerintah memang telah mengirimkan sejumlah bantuan. Namun, cuaca ekstrem dan terputusnya akses penghubung mengakibatkan bantuan tersebut belum sepenuhnya sampai di titik lokasi.

’’Saya minta BNPB dan pemerintah daerah segera mendata titik-titik pengungsian serta memastikan logistik, tenda, dan dapur lapangannya (sampai) untuk memenuhi kebutuhan dasar bagi para pengungsi,’’ tuturnya.

Staf ahli menteri PUPR Bidang Teknologi, Industri, dan Lingkungan Endra Saleh Atmawidjaja mengungkapkan bahwa Kementerian PUPR terus berupaya memobilisasi alat-alat berat dan personel di beberapa balai pekerjaan umum di sekitar NTB dan NTT. ”Kami juga didukung oleh mitra kerja yang sedang bekerja di proyek-proyek infrastruktur terdekat,” ucapnya.

Beberapa kerusakan infrastruktur yang tercatat, antara lain, pergeseran pada armour blok beton bangunan pengaman Pantai Namosain, longsornya tembok penahan tanah sepanjang 50 meter di Bendungan Manikin, kerusakan tanggul pengendali banjir Sungai Malibaka sepanjang 80 meter, dan longsor 30 meter pada sandaran kiri Bendungan Rotiklot.

Pada infrastruktur jalan dan jembatan, salah satu jalan yang rusak adalah ruas batas Kabupaten Manggarai–Gako sepanjang 50 meter. Jembatan yang terputus, antara lain, Kambaniru, Talimetan, dan Harekaen Kaputu. Longsoran pada badan jalan terjadi di Km 35–batas Kota Waingapu. Penanganan dilakukan dengan memperkuat lereng.

Selanjutnya, terjadi di Waikabubak–batas Kabupaten Sumba Timur sepanjang 145 meter dengan penanganan penguatan tebing dan lereng. Untuk tebing dan lereng yang longsor, akan dilakukan perbaikan berupa penguatan lereng, tebing, serta dinding penahan tanah.(jpg)