batampos.co.id – Meskipun lelang Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Batam belum
diketahui kapan akan digelar, dunia usaha di Batam menuntut calon operator SPAM harus
profesional untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Real estate Indonesia (ReI) Batam, Achyar Arfan, mengatakan, pembangunan properti agak terhambat, karena saat ini belum tersedia jasa sambungan baru.

”Ada sejumlah proyek di Nongsa dan Batam Center, yang kami minta jaringan induk baru harus ada. Tapi belum bisa dilayani karena belum ada pemenang lelangnya (SPAM Batam),” ungkap Achyar, Rabu (7/4/2021) seperti yang diberitakan Harian Batam Pos.


Ia berharap, tender segera bisa dilakukan, agar jasa sambungan baru untuk air bersih segera bisa dilakukan.

”Sebelumnya, belum pernah ada kejadian seperti ini. Proyek-proyek yang baru dibangun, tapi belum ada sambungannya. Jadi terhambat. Mungkin belum masuk lingkup kerja operator di masa transisi ini,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Batam, Muhammad Mansur, mengatakan, standar yang harus dimiliki operator baru nanti tentu harus memerhatikan standar kebutuhan, bukan hanya pelaku di sektor akomodasi, tapi juga kebutuhan masyarakat pada umumnya.

Sejumlah warga Kota Batam mengantre untuk pelayanan di kantor pusat SPAM Batam. Foto: Dhiyanto/batampos.co.id

”Kami sebagai pelaku usaha di perhotelan menginginkan pengelola terbaik yang bisa
memenuhi standar kebutuhan masyarakat Batam, baik itu dari standar mutu dan kualitas air, serta bisa memberikan kepuasan sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” kata Mansur.

Sementara itu, di sisi lain, respond time yang cepat menjadi catatan dari PHRI Batam. Respond time yang baik menjadi kebutuhan bersifat solutif, yang didamba bukan hanya masyarakat, tapi juga pelaku di bisnis perhotelan.

Respond time harus cepat, begitu ada kebocoran sudah langsung diperbaiki,” tuturnya.

Kemudian, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam, Rafki Rasyid, berharap siapa pun nanti operator yang mengelola air bersih di Batam, harus memberikan pelayanan terbaik.

”BP Batam juga harus melakukan pengawasan dan regulasi yang ketat untuk melindungi konsumen air di Batam yang tidak memiliki pilihan lain,” tegasnya.

Ia juga berpendapat, idealnya pengelolaan air di Batam jangan diberikan ke satu perusahaan saja.

”Harusnya ada lebih dari satu perusahaan penyedia layanan air bersih, sehingga masyarakat bisa memilih mana yang paling baik untuk dijadikan langganan. Namun tentunya BP Batam punya pertimbangan sendiri dalam hal ini. Kita maklumi hal itu namun kita ajak seluruh lapisan masyarakat untuk mengawasinya bersama sama,” paparnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri, Tjaw Hioeng, juga meminta agar calon operator SPAM Batam itu profesional.

”Bagi kami, paling penting itu mampu suplai air baku ke kawasan industri,” kata Tjaw Hioeng.

Profesional di mata HKI yakni mampu berkomunikasi dengan pengelola kawasan industri, jika suatu saat terjadi masalah di jaringan distribusi air atau reservoir.

”Semua industri butuh air. Bisa dibayangkan jika satu perusahaan punya 1.500 karyawan. Bagaimana kalau tidak ada air, saat misalnya mau ke toilet. Kita berandai-andai dari hal kecil dulu,” ungkapnya.

Kemudian, saat proses produksi, ada sejumlah perusahaan industri yang menggunakan air bersih sebagai komponen utama.

”Misalnya perusahaan yang membuat lensa kontak. Perusahaan ini butuh air berkualitas paling bagus, untuk proses mensterilkan lensa kontak. Jadi, air yang dibutuhkan harus di atas standar nasional,” paparnya.

Sehingga, Tjaw berharap bahwa calon operator baru yang akan ditentukan lewat lelang SPAM Batam, Mei nanti, dapat mengakomodir juga kebutuhan industri.

Industri manufaktur yang banyak terdapat di Batam merupakan salah satu pilar penopang pertumbuhan perekonomian Kepri. Kontribusinya mencapai 60 persen.

Berdasarkan data dari Badan Pengusahaan (BP) Batam, ada 26 kawasan industri di Batam. Sebagian besar di antaranya bergabung dengan HKI Kepri.

Sebagai kota industri, Batam memiliki sekitar 1.309 industri unggul, baik dari penanaman
modal asing (PMA) maupun penanaman modal dalam negeri (PMDN), dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 169 ribu pekerja dari hasil produksi migas dan non-migas.

Sebelumnya, Kepala BP Batam, Muhammad Rudi, mengatakan, bahwa lelang akan segera dibuka Mei mendatang. Karena molornya waktu lelang tersebut, masa transisi yang akan segera berakhir 15 Mei mendatang, diperpanjang. Moya pun diperpanjang hingga tiga bulan ke depan.(jpg)