batampos.co.id – Kementerian Agama (Kemenag) kembali menyampaikan regulasi pelaksanaan ibadah selama bulan Ramadan di tengah pandemi Covid-19. Kegiatan ibadah di bulan puasa di masjid atau musala tetap dilarang di daerah zona merah dan oranye penularan Covid-19.

Keterangan tersebut disampaikan kembali oleh Kemenag supaya masyarakat tidak salah sangka. Jangan sampai masyarakat mengira salat tarawih, tadarus, salat witir, malam itikaf, dan sejenisnya diperbolehkan digelar di masjid atau musala di seluruh Indonesia. Padahal saat ini pandemi Covid-19 belum usai.

Merujuk ketentuan tersebut, mayoritas daerah di Pulau Jawa belum bisa melaksanakan salat tarawih di masjid atau musala. Sebab di Pulau Jawa mayoritas masih berada di zona oranye. Bahkan ada satu yang masih zona merah yaitu Kota Tangerang Selatan di Provinsi Banten.

Untuk Provinsi Jawa Timur zona kuning ada di sepuluh kabupaten/kota. Di antaranya adalah di Jember, Lumajang, Bondowoso, dan Kabupaten Probolinggo. Kemudian zona kuning berikutnya di Tuban, Lamongan, Gresik, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep.

Untuk Provinsi Jawa Tengah dan Yogyakarta seluruhnya masih zona oranye. Begitupunm dengan Provinsi DKI Jakarta semuanya masih berada di zona oranye. Sementara di Pulau Bali ada empat kabupaten dan kota masuk kategori zona merah dan sisanya enam daerah zona oranye.

Dirjen Bimas Islam Kemenag, Kamaruddin Amin, menegaskan untuk daerah zona merah dan oranye, pelaksanaan tarawih dan ibadah lainnya dilaksanakan di rumah masing-masing. Bersama keluarga inti. Sama seperti tahun lalu.

“Menag sudah menerbitkan edaran panduan ibadah Ramadan dan Idulfitri 1442 H. Namun, edaran itu tidak berlaku untuk daerah yang masuk zona merah dan oranye berdasarkan ketetapan Satgas Covid-19 setempat,” jelasnya, Jumat (9/4).

Dia menjelaskan Gugus Tugas Nasional Percepatan Penanganan Covid-19 telah menetapkan kriteria risiko penularan Covid-19. Ada empat kriteria, yaitu zona hijau (tidak terdampak), zona kuning (risiko rendah), zona oranye (risiko sedang), dan zona merah (risiko tinggi).

Di daerah dengan kriteria hijau dan kuning diperbolehkan menggelar salat tarawih di masjid atau musala. Dengan ketentuan tetap menerapkan protokol kesehatan. Seperti mencuci tangan, pakai masker, jemaah membawa sajadah sendiri, dan jaga jarak minimal satu meter.

Kemudian kapasitas masjid atau musala hanya 50 persen saja. Ketentuan ini juga berlaku untuk kegiatan buka bersama, salat wajib lima waktu, tadarus, iktikaf, dan lainnya. Untuk kegiatan ceramah atau tausiyah diminta maksimal 15 menit.

Terpisah, pemerintah bersama Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, telah memutuskan untuk memperbolehkan pelaksanaan salat tarawih berjemaah di Masjid Istiqlal pada bulan suci Ramadan tahun ini. Hal itu didasari atas berbagai pertimbangan tanpa mengindahkan protokol kesehatan.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy, mengingatkan, pelaksanaan salat tarawih dan jenis ibadah lainnya yang akan dilakukan di Masjid Istiqlal harus benar-benar diperhatikan. Bila perlu, setiap jemaah yang akan datang beribadah saling mengenal atau berada dalam satu komunitas dan lingkungan yang sama.

Pasalnya, dengan berada di satu komunitas yang sama maka jemaah akan lebih bisa mengenali satu sama lain dan menjamin status kesehatannya. Diharapkan, hal tersebut akan meminimalisir terjadinya kemungkinan penularan Covid-19. (*/jpg)