batampos.co.id – Lion Air Group meminta tambahan lahan di area Bandara Internasional Hang Nadim Batam untuk Maintenance, Repair and Overhaul Batam Aero Tecnic (MRO BAT) dari 30 hektar menjadi 50 hektar kepada Badan Pengusahaan (BP) Batam.

Presiden Direktur Lion Air, Edward Sirait, mengatakan, hal itu dilakukan agar pelaksaan MRO di Batam menjadi lebih mudah dan praktis teruta,a terkait kerjasama dengan investor.

“Adendum dilakukan agar pelaksanaan (MRO,red) kami di Batam jauh lebih mudah dan praktis ke depan dalam rangka bekerjasama dengan pihak lain, maupun dengan mitra-mitra yang berkaitan dengan perawatan pesawat,” katanya saat mengelar konfrensi pers di gedung marketing kantor BP Batam, Rabu (14/4/2021).

Ia menjelaskan, keberadaan BAT di Bandara Internasional Hang Nadim untuk mengembangkan perawatan dan perbaikan pesawat di Batam.

Sehingga yang biasanya perawatan dan perbaikan dikerjakan di luar negeri dapat dikerjakan di Indonesia khusnya di Kota Batam.

“Sehingga dapat menghemat devisa negara kurang lebih Rp20 triliun/tahun. Kemudian akan tercipta lapangan pekerjaan dan target kita hingga tahap ke enam bisa menampung kurang lebih 10 ribu tenaga kerja di BAT,” tuturnya.

Teknisi MRO BAT Lion Air sedang melakukan perawatan berkala pada salah satu pesawat Lion Air Group. Foto: Messa Haris/batampos.co.id

Menurutnya saat ini lahan yang sudah diberikan BP Batam kepada BAT seluas 30 hektare dan kemungkinan masih akan dikembangkan menjadi 50 hektare.

“Di lahan 30 hektare ini kami akan menginvestasikan untuk perawatan, hanggar dan gedung-gedungnya. Kurang lebih investasinya Rp7,3 triliun dan akan diselesaikan selama enam tahap,” jelasnya.

Saat ini lanjutnya pembangunan tahap I dan II sudah selesai dibanguna dan yang sedang berlangsung yakni tahap 3. Sedangkan pembangunan tahap 4 akan direncanakan pada 2022 mendatang.

Ia menjelaskan, pembangunan MRO di Batam diharapkan ke depannya dapat mengambil pasar perbaikan pesawat regional atau asia pasifik yang memiliki sekitar 12 ribu unit pesawat. Dengan nilai bisnis US$100 miliar pada tahun 2025.

“Jadi kalau kita bisa mengambil 10 persen saja mungkin kita bisa mendapatkan pekerjaan senilai US$10 miliar dolar/tahun. Itu mimpinya, untuk itu kami mengajukan rencana penambahan lahan ini 20 hektar lagi,” jelasnya.

Menurutnya, kemitraaan dengan pihak luar atau investor asing sangat dibutuhkan untuk mengembangkan MRO. Tujuannya adalah untuk mendapatkan sertifikasi terkait perawatan pesawat.

“Sertifikasi perbaikan pesawat sangat utama. Kita bisa memperbaiki tapi belum memiliki sertifikasi itu tidak bisa dan itu sangat dibutuhkan (sertifikasi,red). Dan pekerjaan (perawatan dan perbaikan pesawat,red) itu diakui dan disertifikasi oleh mereka sehingga layak jual di luar negeri,” tuturnya.

Wakil Kepala BP Batam, Purwiyanto, berharap kerjasama antara BP Batam dan Lion Air dapat lebih maju ke depannya. Dengan adanya kerjasama tersebut diyakini dapat memajukan dan perkembangan industri MRO di Kota Batam semakin baik.

Kata dia dengan adanya MRO BAT akan menghemat devisa negara mencapai Rp26 triliun/tahun. Bahkan BAT lanjutnya dapat membuka lapangan pekerjaan hingga kurang lebih 10 ribu pekerja.

“Jika UMK Rp4 juta jika dikalikan 10 ribu pekerja berarti sekitar Rp40 miliar/bulan dan dengan adanya MRO sektor ekonomi makro di Kota Batam juga akan ikut bergerak,” tuturnya.(esa)