Berawal dari tantangan Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau akhirnya berinovasi untuk membuat sedotan atau pipet dari bambu.

Selain dapat meminimalisir penggunaan plastik, sedotan bambu juga berhasil mendongkrak dan mengerakan ekonomi kerakyatan masyarakat yang berada di daerah 3T tersebut.

batampos.co.id – Tantangan tersebut datang saat Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) bertandang ke kantor Kepala Dinas (Kadis) Lingkungan Hidup (LH) Kabupaten Natuna, Boy Wijanarko Varianto.

Ketua FTBM, Harken Dambardi, mengatakan, saat pihaknya melakukan audiensi ke kantor Kadis LH Natuna, mereka diberikan ilustrasi mengenai bahayanya sampah plastik, salah satunya sedotan atau pipet.

Sang Kadis kata dia, mengilustrasikan apabila sedotan plastik yang ada saat ini disambungkan, panjangnya dapat membelah beberapa benua.

Mendapatkan pencerahan tersebut, pihaknya lantas memiliki ide untuk membuat sedotan berbahan dasar bambu.

“Maka tanpa menunggu waktu, kami bersama rekan-rekan dari TMB Taman Ilmu Desa Mekar Jaya Natuna menjawab tantangan tersebut dengan membuat sedotan dari bahan baku bambu,” jelasnya.

Sedotan bambu karya TBM Ilmu Desa Mekar Jaya Natuna. Foto: TBM Ilmu Desa Mekar Jaya Natuna untuk batampos.co.id

Gerakan tersebu bukan hanya sebagai kampanye ramah lingkungan tanpa plastik tapi juga mampu memberikan sudut pandang baru bagi warga sekitar terkait FTMB.

Selama warga kata dia hanya negetahui FTMB sebagai sarana baca dan tulis, tapi mampu beradaptasi menjadi sumber pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Selain berfungsi sebagai sedotan, pipet bambu juga memiliki artistik tersendiri juga sangat ekonomis.

Hingga saat ini pesanan sudah datang dari berbagai kalangan, khususnya perhotelan, cafe juga sebagai souvenir untuk pesta pernikahan.

Penanggung Jawab TBM Ilmu Desa Mekar Jaya Natuna, Ahdiani, mengatakan awal membuat pipet bambu hanya sekitar 60 pcs saja pada Maret 2021 lalu dan hanya dijadikan souvenir ketika ada tamu yang bertandang ke tempat mereka.

Namun saat ini, mereka mampu memproduksi ratusan pipet bambu yang dibanderol dengan harga Rp 1.500/pcs.

kata dia, selain ramah lingkungan, bahan baku berupa bambu sangat mudah didapatkan di Natuna.

“Sekarang kita sedang memproduksi sekitar 700 pcs dan yang paling banyak untuk dijadikan souvenir pernikahan,” katanya, Senin (19/4/2021).

Setiap pembelian pihaknya juga memberikan nama ataupun logo sesuai dengan yang diinginkan si pemesan.

Proses pembuatan sedotan bambu kata dia, dilakukan dalam beberapa tahap. Salah satu fasenya adalah saat proses akhir.

Pipet bambu yang sudah selesai diproduksi akan direbus dalam waktu tertentu untuk meminimalisir jamur.

Saat ini kata dia, penjualan pipet bambu masih sebatas dari teman ke teman di area Natuna. Namun ke depan penjualan akan menggunakan media sosial dan flatform penjualan online lainnya.

“Target ke depan kita akan menjual pipet bambu ini beserta dengan petunjuk pemeliharaan dan brusnya. Sehingga lebih awet digunakan,” paparnya.

Pipet bambu kata dia, maksimal dapat digunakan untuk 10 kali pemakaian. Dengan catatan cara membersihkannya sesuai dengan tata cara yang diberikan.

Namun lanjutnya, saat ini pihaknya ingin memberikan edukasi kepada masyarakat agar dapat mengurangi penggunaan plastik.(esa)