batampos.co.id – Para penyintas Covid-19 bisa mengalami efek samping atau Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang lebih berat jika divaksinasi. Para ahli pun mengumpulkan data dan membuktikan apakah hal ini benar fakta atau sugesti dan mitos semata.

Dilansir dari ABC4, Rabu (28/4), Dokter Penyakit Menular di Intermountain Healthcare Dr. Eddie Stenehjem, mengatakan, ada beberapa data observasi bahwa mereka yang pernah menderita Covid-19 menjadi cukup bergejala setelah dosis pertama suntikan Covid-19. Di sisi lain, kebanyakan orang yang belum menderita Covid-19, tak mengalami efek samping saat dosis pertama.

“Penyintas, mungkin lengannya sakit. Dan kemudian pada suntikan kedua, mereka bisa bergejala dengan demam, menggigil, seperti merasa lesu,” katanya.

Mengapa itu bisa terjadi? Dia mengatakan ini terjadi karena, bagi mereka yang pernah menderita Covid-19, suntikan pertama itu sebenarnya adalah suntikan pendorong. Maka, tak heran jika terasa bergejala.

“Dan itu sangat normal,” kata Dr. Stenehjem seperti juga dijelaskan dalam New England Journal of Medicine.

“Ada beberapa data dan banyak orang membicarakan hal ini,” tambahnya.

“Beberapa orang mungkin tidak mengalami gejala sama sekali setelah menerima vaksin,” kata dia.

Ahli dari Division of Infectious Diseases di University of Utah Health Emily Spivak mengatakan hal yang sama. Dia mengatakan bahwa data yang diterbitkan menunjukkan bahwa orang yang pernah menderita Covid-19 sebelum menerima vaksin, mengalami peningkatan tingkat efek samping lokal atau sistemik seperti demam, kedinginan, nyeri otot, kelelahan, dan sakit kepala setelah dosis vaksin pertama dibandingkan mereka yang belum.

“Ini tidak 100 persen, tetapi angka keseluruhan lebih tinggi,” kata dr. Spivak.

Dan dia mengatakan hal itu karena sejak dosis pertama, sistem kekebalan tubuh harus terbangun lagi. “Ini seperti sakit seperti flu,” lanjutnya.

Dosis pertama pada dasarnya dapat menjadi suntikan pendorong (booster) bagi mereka yang sebelumnya pernah sakit Covid-19. Mereka yang menderita Covid-19 sering kali memiliki respons antibodi yang tinggi setelah dosis pertama

“Ada beberapa saran bahwa mungkin kalau penyintas cukup diberi satu dosis dan itu bisa menjadi cara untuk mengurangi pasokan vaksin. Namun praktik itu tidak pernah diterapkan di AS,” katanya.

“Tetapi tidak diketahui berapa lama respon antibodi akan bertahan dibandingkan dengan seri dua dosis,” katanya.(jpg)