batampos.co.id – Pelaksanaan vaksinasi Covid-19 di Kota Batam terkendala stok vaksin yang habis.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam, Didi Kusmarjadi, mengatakan, stok vaksin yang ada saat ini hanya tersedia untuk
lansia. Itupun jumlahnya tak sampai 140 vial vaksin.

“Bisa dikatakan sudah habis. Keterbatasan vaksin juga menjadi salah satu kendala kita saat ini,” ujarnya, Selasa (27/4/2021) seperti yang diberitakan Harian Batam Pos.

Didi mengatakan, untuk dosis pertama vaksin AstraZaneca yang datang beberapa waktu lalu bisa dikatakan sudah disuntikkan secara keseluruhan.

Begitu juga dengan vaksin Sinovac, baik dosis pertama dan kedua. Cakupannya adalah, sebanyak 8.084 tenaga kesehatan, 11.032 petugas publik dan 7.000-an lansia.

Angka ini masih sangat kurang dari jumlah lansia secara keseluruhan yakni sebanyak 30 ribuan lansia.

“Artinya masih banyak, dan sesuai prediksi kami tidak akan selesai (vaksinasi) tahun ini,” bebernya.

Didi menjelaskan, untuk pelaksanaan vaksinasi Covid-19 bagi lansia ke depan juga akan diubah.

Wali Kota Batam, Muhammad Rudi, saat meninaju vakinasi Covid-19 tahap ketiga kepada para guru di Kota Batam beberapa waktu lalu. Foto: Pemko Batam untuk batampos.co.id

Dimana, tidak lagi memanggil para lansia untuk diberi vaksin. Tetapi, lebih kepada melibatkan perangkat RT dan RW setempat untuk mendata jumlah lansia.

Setelah didata, nanti petugas vaksin yang akan turun ke lokasi tempat tinggal lansia.

“Makanya kalau masuk lagi, metodenya akan kita ubah,” ungkap Didi.

Disinggung mengenai kedatangan vaksin termin berikutnya, Kepala Dinas Kesehatan itu menjawab, saat ini sebanyak 3 juta dosis vaksin AstraZaneca sudah tiba di Jakarta.

Hanya saja, kapan penyalurannya ke daerah belum diketahui, termasuk juga berapa jumlah vaksin yang disalurkan ke Batam.

“Kita masih tunggu. Minimal jumlahnya sama dengan vaksin AstraZaneca kemarin, kita dapat 35 ribu di tahap pertama dan 35 ribu lagi untuk dosis kedua,” tambah Didi.

Ia juga berharap, vaksin ini bisa segera didistribusikan ke daerah-daerah sehingga ke depan bisa diaplikasikan kepada masyarakat penerima vaksin.

“Belum ada informasi dari pusat (kapan disalurkan), yang pasti bisa secepatnya,” terang Didi.

Selain vaksin AstraZaneca, Didi menambahkan, sebanyak 1.600 vial vaksin lansia sudah berada di gudang Kimia Farma.

Hanya saja, belum bisa disalurkan lantaran terkendala aplikasi Sistem Monitoring Imunisasi dan Logistik Elektronik (SMILE).

SMILE adalah salah satu aplikasi yang terintegrasi dalam sistem tersebut. SMILE menyangga lalu lintas informasi sepanjang lini seperti distribusi logistik, pelaporan, dan pemantauan evaluasi.

SMILE memantau secara real time logistik rantai dingin vaksin dan penyimpanannya di seluruh titik penyedia vaksin, dari provinsi hingga tingkat Puskesmas serta Rumah Sakit.

“Sekarang by sistem. Saat ini petugas kita baru akan On the Job Training (OJT) pada sistem ini,” tambah Didi.

Dia menerangkan, nantinya lewat sistem ini semua penyaluran vaksinasi ke daerah harus melalui permintaan dari daerah.

Semisal, daerah kekurangan vaksin lalu diajukan melalui aplikasi yang langsung terkoneksi ke pusat.

Berapa yang dibutuhkan baru dikeluarkan oleh pusat. Sementara, daerah yang memiliki stok vaksin akan terdata pada aplikasi ini.

“Cuma petugas kita mau diajari dulu mekanisme permintaan (request) vaksin ini. Namanya vaksin Bio Farma, bahan Sinovac namun dibuat di Indonesia,” pungkas Didi.(jpg)