batampos.co.id – Isye Kurnia Ningsih, 60, warga Desa Rintis, Kecamatan Siantan, Kabupaten Kepulauan Anambas, masih aktif dan produktif menghasilkan karya olahan tenunnya. Hasil tenun yang diberi naman Mak Eteh ini sering diborong oleh wisatawan asing dan masyarakat dari luar Anambas.

Isye mengatakan pengetahuan tentang cara menenun yang dia tekuni selama ini dipelajari dari pelatihan selama satu bulan. “Waktu saya diberi pelatihan oleh Dekranasda, tema yang diangkat saat itu kain songket Anambas,” ujar Isye, Senin (3/5/2021).

Namun, diakuinya, proses olahan tenun yang dia kerjakan itu sempat vakum disebabkan keterbatasan alat pendukung seperti teknisi serta kurangnya perhatian dari pemerintah.

Isye Kurnia, perajin songket di Desa Rintis, Kecamatan Siantan, Kabupaten Kepulauan Anambas. (Foto : istimewa untuk batampos.co.id)

“Karena saat itu tidak ada respon dari pihak terkait, akhirnya saya memutuskan modalin sendiri saja, saya beli mesin sendiri, bayar teknisi juga, dan pelatih saya yang biaya untuk mengajarkan anggota tenun di sini,” ucapnya.

Lanjut dia lagi mengutarakan meski harus mengeluarkan modal sendiri untuk mengembangkan olahan tenunannya itu, ia berharap kedepan agar Kepulauan Anambas punya hasil karya sendiri dan menjaga serta melestarikan budaya daerah ini.

“Nantinya para pengunjung dari luar Anambas bisa membawa buah tangan dari Anambas,” ujarnya.

Sementara itu, melalui Bank Indonesia ia juga memperoleh bantuan berupa bahan tenun, dan ia juga diajak untuk mengikuti berbagai kegiatan bersama Bank Indonesia.

“Saya sangat berterimakasih sekali kepada Bank Indonesia yang sudah mau mengangkat dan membantu saya ini, ditambah lagi saya waktu itu diberi bantuan berupa mesin dan bahan baku tenun,” tuturnya.

Masih kata dia, saat ini ada empat orang dari masyarakat telah diberikan pelatihan cara menenun. “Saya datangkan teknisi dari Kota Pekanbaru dengan modal saya sendiri,” ujarnya.

Isye, mengatakan keterbatasan biaya perawatan mesin dan dana yang cukup mahal merupakan kendala yang dialaminya. Terlebih proses pengerjaan menenun memakan waktu yang lama sebab ketelitian, keterampilan, serta kualitas adalah yang diutamakan.

“Untuk kain tenun ini beragam. Satu pasangan kain tenun di jual Rp 2,5 juta untuk yang standarnya,” ujarnya. (fai)