batampos.co.id – Nani Aprilliani Nurjaman, 25,adalah  pengirim takjil maut berisi sate beracun hingga membuat Naba Faiz Prasetya, 10, tewas. Namun dalam kasus ini, anak driver ojol tersebut bukanlah target sebenarnya.

”Kami berharap kasus ini diusut sampai tuntas. Soalnya, ini sudah merenggut nyawa anak saya. Jangan sampai ini terulang kepada driver yang lain,” tutur Bandiman sebagaimana dilansir Jawa Pos Radar Jogja, Senin (3/5).

Pengungkapan kasus tersebut terkuak setelah polisi menangkap Nani Apriliani Nurjaman. Perempuan 25 tahun itu sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Nani terjerat pasal 340 KUHP subpasal 338 KUHP subpasal 80 ayat (3) jo pasal 76C UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Selain itu, dia dikenai pasal 340 KUHP dan pasal 80 ayat (3) jo pasal 76C UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

”Ancaman bisa seumur hidup, hukuman mati, atau paling lama 20 tahun penjara. Saat ini tersangka kami tahan di Mapolres Bantul,” jelas Direktur Reserse Kriminal Umum Polda DIJ Kombespol Burkan Rudy Satria dalam jumpa pers di Mapolres Bantul, Jogjakarta, kemarin.

Polisi belum menyimpulkan bahwa target sesungguhnya dalam kasus sate sianida adalah seorang anggota kepolisian yang bernama Aiptu Tomy. Sebab, kepolisian menduga anggota keluarga Aiptu Tomy pun bisa saja menjadi target. ”Ini belum terungkap semua dengan jelas. Kan keterangannya (Nani, Red) mbulet,” ujarnya.

Rilis resmi kepolisian menekankan kronologi penangkapan Nani, perempuan asal Majalengka, Jawa Barat, yang bekerja sebagai pegawai di salon. Semua berawal dari sakit hati terhadap Aiptu Tomy (nama lengkapnya tak disebutkan). Sebab, anggota Satreskrim Polresta Jogja itu tidak menikahinya.

”Motif sakit hati. Ternyata si target menikah dengan orang lain. Bukan dengan dirinya,” ungkapnya.

Dirreskrimum Polda DIY Kombes Pol Burkan Rudy Satria dan Kapolres Bantul AKBP Wachyu Tri Budi Sulistyono saat konferensi pers terkait satai beracun di Mapolres Bantul, DIY, Senin (3/5/2021). (ANTARA/Hery Sidik)

Selain itu, diungkap Aipu Tomy berhubungan dengan Nani sebelum menikahi istrinya. Namun, Burkan enggan menuturkan lebih jauh hubungan antara Tomy dan Nani. ”Yang perlu diperhatikan adalah korbannya anak-anak, bukan ininya (hubungan khusus Aiptu Tomy dan Nani). Intinya, kami mengungkap kasus pembunuhan, cari saja korbannya siapa,” tegasnya.

Sianida yang menewaskan Naba dipesan Nani secara daring pada 28 Maret lalu. Yang dia pesan, sodium sianida. Namun, ternyata yang dia dapat adalah kalium sianida.

Sekitar sebulan kemudian, persisnya pada 25 April, Nani mendatangi Bandiman yang tengah beristirahat di samping sebuah masjid. Nani beralasan tidak memiliki aplikasi ojol (ojek online) sehingga meminta Bandiman mengantar paket takjil secara offline. Bandiman setuju dan meminta imbalan Rp 25 ribu. Oleh Nani, dia diberi bayaran Rp 30 ribu.

Target paket tersebut adalah Aiptu Tomy yang beralamat di Villa Bukit Asri, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul. Kemudian, Nani berpesan, bila ditanya, Bandiman cukup menjawab paket dari Hamid Pakualaman. Sesampai di rumah Aiptu Tomy, paket yang diantar Bandiman justru ditolak.

Sebab, Aiptu Tomy sedang berada di luar kota. Selain itu, dia dan istrinya tidak mengenal Hamid dari Pakualaman. Mereka juga tidak memesan paket takjil. ”Makanan yang dikirim ojol gagal diterima. Dibawa pulang ke rumah (oleh Bandiman) dan mengakibatkan anaknya meninggal setelah memakan sate saat berbuka puasa,” paparnya.

Bandiman masih ingat benar malam nahas itu. Sesampai di rumah, Bandiman berbuka bersama istri dan kedua anaknya. Naba meminta bertukar takjil dengan Bandiman. Namun, persis saat memakan paket takjil berisi sate ayam yang diberi bumbu, Naba merasakan pahit, pedas, dan tidak enak. ”Dia kemudian minum air dari kulkas,” kenang Bandiman.

Tak berselang lama, dia justru terjatuh. Naba sempat mendapat penanganan di RSUD Kota Jogja. Namun, nyawanya tidak tertolong. Hasil uji laboratorium terhadap sisa paket takjil berupa sate ayam yang dimakan Naba, ditemukan kandungan kalium sianida. Akibatnya, anak 9 tahun itu meninggal setelah memakannya dan minum air karena merasakan rasa pedas, panas, dan pahit.(jpg)