batampos.co.id – Pemerintah melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) mengungkapkan, kondisi perekonomian Indonesia pada kuartal pertama tahun ini telah berangsur membaik. Ketua KSSK sekaligus Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyebut, meskipun masa pandemi masih berlangsung, ekonomi sudah menjadi lebih baik.

Ia memaparkan, tanda-tanda pemulihan ekonomi tercermin dari beberapa faktor, mulai dari penguatan purchasing managers index (PMI), meningkatnya pertumbuhan volume perdagangan global, serta membaiknya harga komoditas. “Membaiknya prospek pemulihan ekonomi global dibayangi oleh meningkatnya kembali kasus Covid-19,” ujarnya dalam konferensi pers secara virtual, Senin (3/5).

Selain itu, Sri Mulyani juga mengungkapkan, World Economic Outlook (WEO) IMF bulan April 2021 merevisi ke atas proyeksi pertumbuhan global 2021 dari 5,5 persen menjadi 6 persen. “Namun demikian, optimisme tersebut juga dibayangi dengan melonjaknya kembali kasus Covid-19 global,” imbuhnya.

Di Indonesia sendiri, lanjutnya, pemulihan ekonomi domestik terlihat sejalan dengan menurunnya kasus Covid-19 yang didukung oleh perkembangan program vaksinasi. Hingga Maret 2021, sejumlah indikator dini ekonomi menunjukkan arah perbaikan.

“Data PMI yang telah berada pada zona ekspansi terus melanjutkan tren penguatan, sementara kinerja ekspor terus membaik, inflasi terkendali pada level yang relatif rendah, sedangkan cadangan devisa mencapai USD 137,1 miliar atau setara dengan 10,1 bulan impor. Progres vaksinasi juga berjalan cukup baik, dengan jumlah dosis vaksin yang diberikan mencapai 20 juta per 30 April 2021,” jelasnya.

Di sisi lain, terjadi momentum penguatan kinerja ekonomi domestik terutama ditopang oleh berlanjutnya kebijakan fiskal countercyclical dalam APBN 2021. Defisit APBN 2021 direncanakan pada level 5,7 persen PDB.

Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) berlanjut di tahun 2021 dengan anggaran yang lebih besar mencapai Rp 699,43 triliun dan penyempurnaan desain implementasi sejumlah program agar berjalan lebih cepat dan efektif dalam mendorong percepatan pemulihan ekonomi.

“Fokus utama tentu saja tetap pada penanganan kesehatan, termasuk untuk mendukung program vaksinasi. Selain itu, penguatan reformasi struktural juga dilakukan untuk mendorong pertumbuhan potensial jangka panjang yang berkelanjutan dan berdaya tahan” pungkasnya.(jpg)