LEBIH dari lima kali Bupati Natuna Wan Siswandi menyebut nama saya ketika memberikan kata sambutan saat silaturahmi Bupati, Wabup, keluarga, dan rombongan, dengan pengurus PKBN Batam, Selasa malam (25/5), di Batam.

Di antara sebutan itu, berkali-kali juga Bupati Wansis –begitu dia biasa disapa– keliru menyebut Ibrahim kepada saya, lalu kemudian mengulangi dengan sebutan Candra. Lalu Ibrahim lagi. Tak apalah. Candra atau Ibrahim, sama saja. Toh, dua kata itu terlanjur melekat kepada saya, meskipun Ibrahim itu nama bapak saya yang  masih sehat di Pekanbaru.

Namun, bukan itu yang hendak saya tuliskan dalam catatan kecil kali ini. Itu tidaklah penting. Bagi saya, mau disebut atau tidak oleh pejabat dalam sebuah sambutan, saya anggap sebagai sebuah penghargaan saja. Apalagi, saat pertemuan itu, saya dan teman-teman PKBN (Perkumpulan Keluarga Besar Natuna) bertindak sebagai tuan rumah.

Malam itu, usai Bupati Wansis dan Wabup Rodhial Huda menyempaikan kata sambutan dan perkenalan kepada pengurus KPBN, panitia memberi kehormatan kepada saya untuk makan malam semeja dengan keduanya. Saya tak enak hati, saya mempersilakan Ketua PKBN Abdul Karim menenami saya bersama Kamarudin Saban, seorang pengawas PKBN.

Sambil menunggu keduanya cuci tangan secara bergantian, mulanya kami membuka diskusi ringan dengan Wabup Rodhial Huda. Tokoh maritim yang kerap menjadi pembicara seminar kelautan di Indonesia itu menuturkan, salah satu fokus penting dirinya ke depan adalah sektor ekonomi kelautan dan wisata. Itu ditugaskan oleh Bupati kepadanya.

“Pak Bupati memberi saya tugas khusus. Sebab itu, kepada kawan-kawan PKBN Batam, saya akan sering minta saran, sebab kawan-kawan kan tinggal di kota dan sudah kenyang pengalaman, termasuk di bisnis seperti Udin (Kamarudin, pemilik tour and travel) dan Ketua (maksudnya saya) di perusahaan media,” urai Rodhial.

Tak lama kemudian, Bupati menghampiri kami setelah selesai cuci tangan. Giliran wabup menuju wastafel yang letaknya agak jauh dari tempat kami dudu di RM Seafood Mentarau, Tiban itu.

Saya juga mengawali diskusi kecil dengan Bupati Wansis. Mantan sekda dan mantan kadishub itu mengakui bahwa tugas berat ke depan adalah mengatasi covid-19 dan pemulihan ekonomi. “Keduanya harus berjalan beriringan seperti pesan Presiden,” katanya.

Dalam catatan saya, Natuna punya peluang sekaligus tantangan ke depan. Namun, janji kampanye yang mereka tuangkan dalam visi dan misi, agaknya sulit dicapai seluruhnya dengan situasi saat ini dan pendeknya periode jabatan.

“Bantu kami untuk memenuhi janji kampanye. Kami berharap, bisa direalisasikan, kalau tak penuh ke atas, berharap penuh ke bawah,” ucap Wansis.

Kehadiran saya malam itu memang diundang sebagai salah satu pengawas sekaligus pendiri PKBN Batam. Teman-teman pengurus harian yang mengundang saya. Meskipun, di mata bupati dan wabup, saya lebih mereka kenal sebagai Ketua PWI Kepri, yang ditakdirkan Tuhan lahir di Natuna.

Puluhan orang pengurus PKBN ikut hadir dalam jamuan makan malam sekaligus syukuran atas pelantikan bupati/wakil bupati. Sementara dari pihak keduanya dihadiri oleh beberapa kepala dinas, kepala badan, anggota DPRD Natuna, dan keluarga bupati dan wabup.

Yang sempat saya rekam dari diskusi di meja makan malam itu, di antaranya Wabup Rodhial mengaku prihatin dengan sumber-sumber ekonomi yang belum dapat dimaksimalkan. Sementara Bupati Wansis lebih banyak bercerita soal infrastruktur untuk menunjang konektivitas dan pergerakan barang dan manusia. Bupati juga berjanji akan menata kota Ranai sebagai ibukota kabupaten.

Tugas besar lainnya adalah menyambut kehadiran proyek nasional di Telukbuton, PLBN di Serasan yang sudah berjalan, penataan Gedung DPRD, rencana bandara sipil di Kelarik, dan lain sebagainya. Ini tentu kerja berat dan harus ditopang oleh APBN dan APBD Kepri. Sebab, APBD Natuna saat ini hanya Rp1 triliun.

Selain itu, ada pernyataan secara eksplisit dari Wabup Rodhial bahwa Pemkab Natuna ke depan akan memecah perusahaan daerah ke dalam beberapa fokus dan bidang garapan. Misalnya, akan ada perusda yang menangani sektor kelautan dan maritim, perdagangan, migas, dan pariwisata.

“Agar kita bisa lebih fokus mengurus SDA di Natuna dan perusahaan daerah dapat berkontribusi lebih nyata untuk membuka lapangan kerja dan menunjang PAD kabupaten,” kata Rodhial.

Di penghujung acara, keduanya didaulat untuk berfoto bersama dengan hadirin. Beberapa sesi foto diambil berdasarkan pengurus PKBN mewakili kecamatan yang ada di Natuna. Ada perwakilan Ranai, Sedanau, Midai, Serasan, Pulau Laut, dan sebagainya.

Saat itulah saya melihat, ada beberapa kejadian unik mengikuti sesi foto itu dan sesudahnya. Mungkinkah ini sebagai pertanda? Hmm, saya tidak akan menuliskannya kali ini. Nantilah, di saat yang tepat. Berikan waktu untuk keduanya bekerja. Toh, mereka baru saja dilantik.*