Minggu, 26 April 2026

Sepekan 31 Warga Batam Meninggal akibat Covid-19

Berita Terkait

batampos.co.id – Kasus kematian akibat Covid-19 di Batam semakin mengkhawatirkan. Dalam sepekan terakhir, angka kematian setelah terpapar Covid-19 di Kota Batam mencapai 31 orang.

Terbanyak pada Senin (31/5//2021) lalu sebanyak 11 orang dan Selasa (1/6/2021) sembilan orang.

Berdasarkan data Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Batam, tercatat 31 orang meninggal dunia akibat Covid-19 terhitung sejak 26 Mei hingga 1 Juni 2021.

Angka ini tertinggi sejak virus corona pertama kali menyerang Batam.

”Jika dibandingkan periode tahun ini, (kasus kematian, red) ada banyak peningkatan dari tahun lalu,” ujar Ketua Bidang Kesehatan Tim Gugus Covid-19 Kota Batam, dr Didi Kusmarjadi, SPoG, di Sekupang, Rabu (2/6/2021), seperti yang diberitakan Harian Batam Pos.

Disebutkannya, tidak hanya kasus kematian yang meningkat, kasus terkonfirmasi positif sepanjang 2021 ini juga terus mengalami peningkatan.

Jumlah pasien Covid-19 di Kota Batam hingga Rabu (2/6/2021).

Bahkan, angka positif sudah mencapai 9.369 orang atau hampir di angka 10 ribu warga Batam yang terpapar corona.

”Kenaikannya memang sangat luar biasa dan ini tentu harus menjadi perhatian serius kita semua. Tidak hanya pemerintah, masyarakat juga harus lebih patuh protokol kesehatan,” ungkap
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Batam itu.

Disinggung mengenai tingginya angka kematian sejak sepekan terkahir, diakuinya karena tingginya jumlah kasus yang masuk.

Selain itu, ada juga karena pelaporan dari rumah sakit yang terlambat atau rumah sakit telat melaporkan ke tim gugus tugas.

”Seimbang penambahan kasus dan kasus kematian akibat Covid-19 Batam,” tuturnya.

Ditambahkan Didi, korban yang meninggal akibat Covid-19 sebagian besar adalah mereka yang bergejala.

Namun begitu, ada juga pasien meninggal tidak bergejala. Ditanya mengenai apakah karena adanya temuan virus corona varian baru?

Didi mengatakan, yang bisa menentukan hanya Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) Kementerian Kesehatan RI.

Sebab, kata Didi, sampel pasien yang meninggal dikirim ke Litbangkes untuk diteliti penyebab kematiannya apakah karena varian virus baru atau sebaliknya.

”Kita tetap kirim sampel (ke (Litbangkes, red), namun hasilnya belum keluar. Yang jelas pada saat meninggal itu mereka bergejala,” bebernya.

Khusus varian baru, Didi mengatakan, gejala baru ada, tapi belum bisa dipastikan itu merupakan varian baru.

”Jika merujuk kriteria epidemiologi yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan sama semua. Hanya saja, karena ada penyakit penyerta gejala yang ditimbulkan lebih berat,” jelasnya.

Berdasarkan hasil epidemiologi disebutkan, untuk gejala suspect masih seputar hilang indra penciuman, pengecapan, demam, batuk, ISPA, hingga penurunan kesadaran.

Gejala ini, lanjutnya, bisa dirasakan lebih berat, apabila pasien memiliki penyakit penyerta. Sehingga menyebabkan risiko kematian lebih tinggi.

”Mungkin kalau bergejala tanpa penyakit penyerta risiko kematian relatif rendah. Namun karena ada penyakit penyerta daya bertahan tidak bisa diprediksi,” sebutnya.

Sejak ada temuan virus B117, beberapa waktu lalu, terjadi peningkatan penyebaran virus.

Virus lebih cepat menyebar, meskipun belum bisa dipastikan penyebabnya.

”Apakah memang karena varian baru kita belum tahu. Namun yang jelas akibat adanya penyakit penyerta dan bergejala yang
lebih berat dari sebelumnya, risiko kematian menjadi lebih
tinggi,” ujarnya.

Didi menjelaskan, pasca adanya penemuan varian baru ini, memang ada kekhawatiran terkait penyebaran virus di Batam.

Untuk itu, masyarakat jangan abai terhadap protokol kesehatan (protkes), dan menerapkan 5M (memakai masker, mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan membatasi mobilitas dan interaksi) baik di rumah maupun di luar ruangan.

”Virus ini lebih cepat menyebar, itu saja. Sehingga lebih banyak pasien Covid-19. Namun kalau penyebab kematian yang cukup tinggi sampai saat ini, belum bisa dikonfirmasi apakah itu akibat virus varian baru atau tidak. Intinya masyarakat harus tingkatkan kewaspadaan dan protkes,” tegasnya.

Adapun usia korban meninggal paling banyak kisaran 46 tahun sampai 55 tahun (57 orang). Sedangkan di posisi kedua terbanyak di usia 56 tahun sampai 65 tahun (47 orang), usia 36-45 tahun (36 orang), dan di atas 65 tahun (26 orang).

Sementara usia 26 sampai 35 tahun tercatat 12 orang, dan 0 sampai 5 tahun tercatat 3 orang.

”Untuk kecamatan mana yang paling banyak belum kita catat,” ujarnya.

Namun begitu, berdasarkan data Tim Gugus Tugas Covid-19 Batam, kemarin, mencatat Kecamatan Batam Kota masih menjadi wilayah dengan penyumbang korban meninggal tertinggi akibat Covid-19.

Tercatat sampai kemarin korban meninggal di Batam Kota sebanyak 56 orang.

Selanjutnya, Kecamatan Sekupang 26 orang dan Lubukbaja 25 orang, serta Bengkong 19 orang.(jpg)

Update