batampos.co.id – Pergerakan Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hari ini berpotensi terus menguat seiring dengan meredanya kekhawatiran pasar terhadap potensi pengetatan kebijakan moneter Bank Sentral AS yang lebih cepat, untuk saat ini. Mengutip laman resminya, kurs tengah Bank Indonesia (BI) berada di level Rp 14.316 per dolar AS.

“Nilai tukar Rupiah berpotensi menguat ke kisaran 14.250, dengan potensi pelemahan ke kisaran 14.330,” kata pengamat pasar keuangan Ariston Tjendra, Senin (7/6).

Ariston memaparkan, akhir pekan lalu, data tenaga kerja AS, non-farm payrolls bulan Mei dirilis di bawah ekspektasi pasar. Hasil ini melegakan pelaku pasar terhadap kemungkinan the Fed akan melakukan tapering atau pengetatan moneter yang lebih cepat.


Sebab, bank sentral AS, the Fed merujuk pada dua indikator yaitu tingkat inflasi di atas 2 persen dan data tenaga kerja sebagai pertimbangan untuk menyesuaikan kebijakan moneternya. Angka inflasi di AS sudah menunjukan angka di atas 2 persen karena membanjirnya likuiditas akibat stimulus besar di AS.

“Tapi the Fed beralasan bahwa inflasi itu hanya sementara. Fed melihat angka pekerjaan di AS belum kembali seperti sebelum pandemi sehingga belum ada alasan cukup untuk memperketat kebijakannya saat ini,” tuturnya.

Selain itu, sentimen lainnya berasal dari Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun pun menurun karena ekspektasi di atas. Yield berhasil turun ke bawah 1,6 persen. “Sekarang di kisaran 1,57 persen,” imbuhnya.

Tapi di sisi lain, Ariston menambahkan, pelaku pasar masih mewaspadai isu tapering. Menkeu AS Janet Yellen, dalam pernyataan terbarunya, menyakini bahwa kenaikan tingkat suku bunga AS memberikan dampak yang baik bagi perekonomian AS.(jpg)