batampos.co.id – Perdagangan nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan dapat kembali menguat. Mengutip kurs tengah Bank Indonesia (BI) saat ini posisi rupiah berada di level Rp 14.271 per dolar AS.

“Potensi penguatan rupiah ke kisaran 14.230-14.200, sementara potensi pelemahan ke kisaran 14.300,” kata analis pasar uang Ariston Tjendra kepada JawaPos.com, Selasa (8/6).

Ariston menjelaskan, penguatan rupiah kembali terbuka lebar karena didorong oleh yied obligasi AS tenor 10 tahun yang masih terlihat menekan ke bawah. Yield berada di kisaran 1,57 persen saat ini.


Menurutnya, penurunan yield ini lantaran pasar berekspektasi bahwa Bank Sentral AS belum akan melakukan tapering setelah data tenaga kerja AS, Non Farm Payrolls bulan Mei menunjukkan hasil yang di bawah ekspektasi.

“Pasar menantikan data indeks harga konsumen AS bulan Mei yang merupakan indikator inflasi , yang akan dirilis hari Kamis malam, untuk menentukan arah harga selanjutnya,” tuturnya.

Ariston menyebut, angka yang di atas ekspektasi bisa mendorong kembali penguatan dolar AS. Data inflasi yang konsisten menunjukkan kenaikan di atas 2 persen bisa memicu Bank Sentral AS mengubah kebijakannya menjadi lebih ketat.

Sementara, lanjutnya, sentimen dari dalam negeri, hari ini akan dirilis data cadangan devisa yang mungkin menunjukkan kenaikan cadangan karena surplusnya neraca perdagangan RI.

“Hasil yang menunjukan kenaikan bisa mendukung penguatan rupiah terhadap dolar AS,” pungkasnya.(jpg)