batampos.co.id – Kasus perceraian di Kota Batam masih terbilang tinggi. Buktinya, sepanjang tahun 2021 (Januari-Juni), sudah ada
980 kasus perceraian yang masuk ke Pengadilan Agama (PA) Kota Batam.

Kasus perceraian ini masih didominasi oleh gugatan pihak istri atau dikenal cerai gugat.

Wakil Kepala Pengadilan Agama Batam, Syarkasyi, mengatakan, kasus perceraian yang masuk hingga 8 Juni 2021 kemarin sebanyak 767 kasus dan sudah diputus atau diterbitkan akta perceraiannya oleh Pengadilan Agama.


”Kasus yang masuk 980, sedangkan yang sudah diputus ada sebanyak 767 perkara,” kata Syarkasyi, Jumat (11/6/2021) seperti yang diberitakan Harian Batam Pos.

Ia merinci, sepanjang bulan Januari 2021 saja, kasus yang diputus sebanyak 93 perkara. Terdiri dari 29 cerai gugat. Sementara Februari 2021, ada 133 kasus diputus PA Batam, terdiri dari 53 cerai talak dan 80 lain cerai gugat.

Sedangkan pada Maret 2021, ada 205 kasus yang diputus PA Batam, terdiri dari 142 cerai gugat dan 63 kasus cerai talak.

Lalu, pada April 2021, tercatat ada 142 kasus yang diputus, terdiri dari 103 cerai gugat dan 39 kasus di antaranya adalah cerai talak.

”Kasus yang masuk dan diputus bulan Maret ini cukup tinggi,” ungkap Syarkasyi.

Sementara pada Mei 2021, ada 129 kasus yang diputus PA Batam. Terdiri dari 93 cerai gugat dan 36 lainnya cerai talak.

”Sedangkan untuk bulan Juni 2021, ada enam cerai gugat yang masuk, namun belum ada yang diputus pengadilan,” sebut Syarkasyi.

Jika diuraikan, gugatan dari pihak istri atau cerai gugat masih mendominasi kasus yang masuk awal tahun 2021 ini.

Sementara cerai talak atau dari pihak suami tetap ada, namun jumlahnya setengah dari kasus gugat.

Syarkasyi menyebutkan, cerai gugat dipicu dari beberapa faktor penyebab gugatan.

Paling banyak adalah masalah nafkah, perselisihan pertengkaran terus menerus. Sementara sisanya seperti faktor ekonomi.

”Cerai gugat paling banyak itu karena suami tak memberi nafkah istri,” ujarnya.

Selain itu faktor lainnya yang memicu perceraian juga ada dari faktor poligami, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan faktor perselingkuhan atau zina.

Sementara itu, untuk cerai talak yang paling mendominasi karena perselisihan sehingga menyebabkan pertengkaran terus menerus.

Ada juga istri meninggalkan tempat tinggal dalam waktu yang lama, perselingkuhan atau hadirnya orang ketiga dan sebagainya.

Ditambahkannya, kelompok usia yang paling banyak melakukan perceraian adalah usia muda yakni 25 tahun hingga 40 tahun.

Usia tersebut sangat rentan mengingat ego kedua pasangan masih sangat tinggi yang sebabkan pemicu keretakan rumah tangga.

”Paling banyak usia muda, rata-rata usia 25 tahun sampai 40 tahun,” pungkasnya.(jpg)