batampos.co.id – PT Pelni Batam di Sekupang tak lagi menerima pembayaran dengan sistem tunai, melainkan berganti nontunai. Sayangnya, belum semua warga mengetahui kebijakan tersebut, sehingga banyak yang sudah terlanjur sampai di loket pembelian tiket kapal namun tak siap untuk membayar dengan sistem nontunai.

Hal itu dialami Gugun, 40, warga Bengkong. Ia datang jauh-jauh dari Bengkong ke Sekupang untuk membeli tiket Pelni tujuan Batam-Jakarta, namun tidak bisa membayar secara tunai.

”Katanya enggak bisa bayar cash, harus nontunai. Mana enggak ada duit di ATM pula,” kesal Gugun di kantor Pelni di Sekupang, Senin (13/6).


Namun, saat akan meninggalkan kantor Pelni, ia didatangi oleh seorang pria yang menawarkan pembelian tiket menggunakan ATM-nya. Tetapi, Gugun diminta membayar uang jasa pembayaran nontunai tersebut sebesar Rp 20 ribu. Lantaran ingin cepat membeli tiket, Gugun menyanggupi permintaan itu.

”Ada yang nawarin, ya saya terima. Yang saya mau tanyakan, apakah memang enggak bisa bayar tunai lagi?” tanya Gugun.

Kepala Pelni Cabang Batam, Kapten Agus, mengatakan, Pelni tidak lagi menerima transaksi pembelian tiket kapal secara tunai. Pembayaran dilakukan secara nontunai. Hal ini telah diberlakukan di seluruh Indonesia.

”Cashless (nontunai) sudah berlaku di seluruh cabang PT Pelni di Indonesia,” kata Agus.

Sementara, kata dia, biaya yang harus dibayar juga harus sesuai dengan harga yang tertera. Jika ada petugas yang melebihkan dari harga tersebut, ia meminta calon penumpang melapokan ke pihak Pelni.

”Kalau petugas (kami), saya pastikan sesuai dengan biaya tertera,” tegas Agus.

Agus juga meminta calon penumpang agar menghindari pembelian tiket Pelni melalui jasa atau oknum calo. Pembelian tiket melalui calo akan merugikan penumpang itu sendiri. Sebab, harga yang ditawarkan lebih tinggi dari harga resmi yang dikeluarkan Pelni.

”Membeli tiket menggunakan calo atau jasa yang tidak resmi itu merugikan calon penumpang itu sendiri. Di luar kantor sudah kita tulis besar-besar untuk tidak terbujuk calo,” tegas Agus. (*/jpg)