batampos.co.id – Memperingati hari penyu sedunia yang jatuh pada tanggal 16 Juni 2021 kemarin, Loka Kawasan Konservasi Perairan Nasional (LKKPN) Pekanbaru melalui Wilayah Kerja (Wilker) TWP Kepulauan Anambas terus melakukan upaya sosialisasi kepada masyarakat berupa bimbingan teknis dan penyadartahunan maupun stakeholder di wilayah ini sejak tahun 2014.

” Saat ini kehidupan penyu terancam punah karena makin banyaknya sampah di laut, polusi plastik, dan perburuan ilegal.” ujar,” Kepala LKKPN Pekanbaru, Fajar Kurniawan, Kamis (17/6/2021).

Karena itu, pihaknya terus melakukan pemantauan bersama pihak terkait secara berkala untuk mengurangi tindak pelanggaran serta melakukan respon cepat terhadap adanya kasus atau laporan dari masyarakat terkait pemanfaatan penyu.


“Pemantauan terpadu ini sendiri terdiri dari Lanal Tarempa, PolAir, DKP Kepri Cabang Dinas Anambas, DP3 Kepulauan Anambas, dan LKKPN Pekanbaru,” sebutnya.

Adapun jenis penyu yang dilindungi undang-undang itu diantaranya adalah penyu hijau (chelonia mydas), penyu sisik (eretmochelys imbricata), penyu lekang kempii (lepidochelys kempi), penyu lekang (lepidochelys olivachea), penyu belimbing (dermochelys coriacea), penyu pipih (natator depressus), dan penyu tempayan (carreta caretta).

Lanjut dia lagi mengatakan, kehidupan penyu yang terbilang hampir punah itu perlu dijaga sebab peluang hidup penyu hingga dewasa hanya 2-10 persen saja.

Pihaknya dalam hal ini terus melakukan edukasi ke masyarakat di Kepulauan Anambas dengan merata. Untuk menyasar pemahaman mengenai pentingnya menjaga dan melestarikan penyu, termasuk bahayanya mengkonsumsi dan memperdagangkan telur penyu yang disosialisasikan kepada generasi muda melalui conservation goes to school.

“Hampir 21 sekolah di level SMP dan SMA pernah kita datangi, kemudian ke pemerintah daerah serta masyarakat di titik perdagangan telur penyu kita lakukan sosialisasi regulasi,” jelasnya.

Harapan terbesar LKKPN Pekanbaru terhadap penyu ini adalah terus mengupayakan konservasi agar semakin baik. Indikasinya sudah mulai terlihat dengan semakin menurunnya laporan perdagangan telur penyu.

“Semoga satwa prasejarah yang hampir punah ini akan lestari dan masih dapat dilihat oleh anak cucu kita nanti di Anambas,” harapnya.

Tentunya peran aktif seluruh pihak dalam mewujudkan itu semua diharapkan, karena penyu tidak hanya langka namun juga punya arti penting dalam ekosistem, serta dapat mensejahterakan masyarakat dengan menjadikannya atraksi ekowisata.

Saat ini jumlah lokasi penangkaran penyu yang ada di Kepulauan Anambas ada dua lokasi, yakni di Pulau Pahat yang dikelola oleh Premier Oil dan di Kecamatan Jemaja yang dikelola oleh masyarakat.

“Salah satu calon mitra kami Yayasan Anambas juga sedang menyiapkan upaya pelestarian penyu di sekitar Pulau Bawah,” ujarnya.

Sementara itu, Firman selaku pengelola peduli penyu di Pulau Pahat, Kabupaten Kepulauan Anambas, mengungkapkan kawasan konservasi penyu di daerah ini, salah satu pulau yang tidak berpenghuni. Pulau ini juga dijadikan tempat penetasan penyu (tukik) semi alami yang dikelola oleh program community investaiment Premier Oil dengan kelompok masyarakat peduli penyu.

“Hal itu guna untuk melestarikan dan mencegah satwa langka itu dari ancaman kepunahan,” ujarnya.

Lanjut ia mengatakan penyu (tukik) dilepasliarkan ke habitatnya dari hasil penangkaran atau konservasi di daerah ini pada tahun 2014 hingga 2020 dengan total 114. 225 tukik.

Adapun jumlah rinciannya di tahun 2014 sebanyak 1.063 tukik, tahun 2015 sebanyak 13.597 tukik, tahun 2016 sebanyak 18. 662 tukik.

Kemudian di tahun 2017 sebanyak 21.999 tukik, tahun 2018 sebanyak 16.851 tukik, tahun 2019 sebanyak 22.874 tukik. Sedangkan di tahun 2020 sebanyak 19.219 tukik.(fai)