batampos.co.id – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri memprediksi perbaikan ekonomi Kepri akan terus berlanjut, seiring membaiknya perekonomian global dan masifnya upaya pengendalian Covid-19 melalui vaksinasi.

”Perbaikan ekonomi Kepri di triwulan pertama 2021 didorong peningkatan realisasi investasi swasta untuk meningkatkan kapasitas produksi (impor barang modal) dan terjaganya konsumsi rumah tangga sejalan dengan meningkatnya aktivitas masyarakat,” kata Kepala BI Perwakilan Kepri, Musni Hardi, Selasa (22/6) pada pertemuan daring membahas situasi perekomian Kepri terkini.

Berdasarkan data BI, konsumsi rumah tangga meningkat dari -1,07 persen di triwulan IV 2020 menjadi -0,66 persen di triwulan I 2021. Sedangkan investasi meningkat dari -9,72 persen di triwulan IV 2020 menjadi 0,09 persen di triwulan I 2021.


”Sejalan dengan investasi dan permintaan ekspor yang meningkat, industri pengolahan dan konstruksi mengalami perbaikan yang cukup signifikan,” sebutnya.

Industri pengolahan tumbuh dari 6,50 persen di triwulan IV 2020 menjadi 7,33 persen di triwulan 1 2021. Musni juga menyatakan, peningkatan konsumsi rumah tangga dan investasi, sejalan dengan membaiknya aktivitas masyarakat dan optimisme terhadap kondisi ekonomi ke depan.

Kenaikan konsumsi rumah tangga bisa dilihat dari peningkatan mobilitas masyarakat di tempat rekreasi dan pusat perbelanjaan. Kemudian, kenaikan impor barang konsumsi, perbaikan kegiatan dunia usaha dan penyaluran bantuan sosial.

”Realisasi investasi yang tertunda akibat adanya pandemi, sudah mulai berjalan. Hal tersebut bisa dilihat dari kenaikan investasi tercermin dari kenaikan impor barang modal dan penjualan semen yang ikut meningkat” paparnya.

Sedangkan di sektor industri pengolahan, peningkatan ekspor dan suplai bahan baku sangat membantu kestabilan sektor ini. ”Ini terjadi karena peningkatan indeks produksi industri Singapura,” tuturnya.

Hal tersebut juga bisa dilihat dari kenaikan ekspor. Musni mengungkapkan, ekspor Kepri mengalami tren kenaikan dan tertinggi dalam lima tahun terakhir, khususnya produk elektronik.

”Total ekspor sampai Mei 2021 mencapai 6,33 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Kontribusi produk non migas sebesar 5,12 miliar dolar AS. 33 persen di antaranya disumbangkan mesin produk elektronik,” jelasnya.

Diakui Musni, ekspor yang tumbuh tinggi karena didorong perbaikan ekonomi negara mitra dagang utama. Mitra utama Kepri, yakni Singapura telah bangkit dari keterpurukan. Pertumbuhan ekonominya di triwulan I 2021 naik menjadi 5,2 persen. Kepri mengirim 29,81 persen dari total ekspornya ke negeri jiran tersebut, meliputi elektronik, mesin, dan dari produk besi dan baja.

Kemudian Tiongkok yang saat ini pertumbuhan ekonominya naik ke angka 8,4 persen. Sekitar 26,35 persen ekspor Kepri dikirim ke Negeri Panda tersebut, berupa produk olahan CPO, bahan kimia, dan elektronik.

Dan terakhir, negeri Paman Sam, Amerika yang tumbuh 6,4 persen. Kepri mengirim 17,27 persen dari total ekspornya ke negeri adidaya tersebut, yang mencakup elektronik, mesin, dan bahan kimia.

Pemulihan ekonomi Kepri juga dipercaya akan didorong oleh keberadaan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa Digital Park dan KEK MRO Batam Aero Technic.

”Dua KEK tersebut menjadi solusi dalam pertumbuhan ekomomi baru di Kepri. KEK Nongsa akan menjadi entry point untuk perusahaan IT internasional, lalu KEK MRO diharapkan dapat menghemat devisa sebesar 65-70 persen dari kebutuhan MRO nasional senilai Rp 26 triliun, yang selama ini mengalir ke luar negeri,” terangnya.

Dengan demikian, perbaikan perekonomian Kepri diperkirakan membaik dalam rentang 3,25 hingga 4,25 persen untuk tahun ini.

Musni kemudian mengutarakan lima strategi yang diperlukan untuk memperkuat pemulihan ekonomi Kepri. Antara lain; pertama, terus menjaga agar sektor-sektor utama, produktif, dan aman, dapat beroperasi dengan baik. Kedua, terus mendorong belanja pemerintah terutama belanja modal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Ketiga, mendorong daya saing investasi dan optimalisasi peran industri melalui penguatan local value chain. Keempat, mendorong penyaluran kredit melalui kelembagaan dan kemitraan UMKM.

Kelima atau terakhir, mendorong pengembangan ekosistem ekonomi dan keuangan digital, melalui digitalisasi. (*/jpg)