batampos.co.id – Grafik kasus positif Covid-19 di Batam yang terus meningkat sejak April 2021 harus terus diwaspadai.

Apalagi dari kasus positif harian yang angkanya rata-rata di atas 100 orang, didominasi
pasien bergejala. Berbanding terbalik 2020 lalu yang dominan kasus tanpa gejala.

Dari yang bergejala itu, tak sedikit yang membutuhkan perawatan di ruangan perawa-
tan intensif (intensive care unit/ ICU) karena gejalanya terbilang berat. Sementara Bed Occupancy Rate (BOR) ICU di Batam sudah tak banyak lagi menyediakan tempat kosong.
Kondisi ini diamini Ketua IDI Kepri, dr Rusdani.


”Memang kita di Batam sudah melebihi BOR normal,” katanya, Rabu (23/6/2021).

Selain kekurangan ru-angan ICU, Rusdani mengaku bahwa Batam juga kekurangan SDM (Sumber Daya Manusia) untuk perawatan pasien Covid-19.

”Apabila tambah ruangan isolasi atau ICU, membutuhkan sumber daya, perawat, dokter
umum, dan spesialis. Dengan kondisi saat ini saja, mereka sudah kewalahan, capek. Pakai tenaga mereka lagi, kerja seperti apa jadinya. Mereka saja banyak terpapar Covid-19,” sebutnya.

Ia menambahkan, jika pemerintah menambah ruangan atau gedung isolasi, maka tidak
dapat lagi memberdayakan SDM yang ada.

Solusinya harus menambah perawat, dokter umum, dan dokter spesialis.

”Sekarang saja SDM-nya sudah kurang, kekurangan perawat, dokter umum, dan dokter spesialis,” ungkapnya.

Melihat perkembangan kasus Covid-19 di Batam, Rusdani menyampaikan bahwa kemungkinan orang masuk ke ruangan ICU akan antre. Apabila kondisi ini dibiarkan, kemungkinan akan ada pasien yang terlantar.

”Bayangkan para pejabat, dokter atau wartawan ada yang sakit, butuh ICU. Kami dokter tidak bisa mengeluarkan pasien yang ada di ICU agar mereka masuk. Itu melanggar sumpah dokter. Ruangan ICU disediakan bagi yang benar-benar membutuhkan,” katanya.

Selain itu, pembuatan ruangan ICU bertekanan negatif tidak hanya membutuhkan tamba-
han SDM, tapi juga biaya besar dan waktu yang panjang.

”Opsi menambah ruangan tidak semudah membalikkan telapak tangan,” jelasnya.

Saat ini, lanjut Rusdani, solusinya bagaimana meminimalisir orang yang terpapar Co-
vid-19.

”Kuncinya itu di masyarakat. Jangan ada yang terpapar lagi, sehingga tidak ada warga
yang perlu ruang isolasi atau ICU. Kepada masyarakat saya harap benar-benar mematuhi
protokol kesehatan,” ujarnya.

Ketersediaan tempat tidur (BOR) di Batam semakin menipis. Per Rabu (23/6), BOR ICU ada di angka 74,36 persen.

Setara dengan jumlah keterisian tempat tidur rumah sakit yang ada di Batam. BOR ICU ini sempat berada di atas jumlah tempat tidur yang dimiliki rumah sakit yang menerima pasien Covid-19, di angka 76,9 persen.

Berdasarkan rerata nasional, BOR ICU Batam saat ini cukup tinggi. BOR ICU nasional berada di angka 61,8 persen.

Tentunya, angka-angka ini cukup mengkhawatirkan, apabila penyebaran Covid-19 masih tidak terkendali. Karena, tidak menutup kemungkinan jumlah pasien yang harus mendapatkan perawatan di ICU akan terus bertambah.

Berdasarkan data Gugus Tugas Pengendalian Covid-19 Batam, peningkatan drastis BOR ICU terjadi dari 17 Juni hingga kemarin.

Di 17 Juni BOR ICU berada di angka 55 persen. Tapi dalam waktu 4 hari saja, melonjak tajam hingga mencapai 76,9 persen.

Ketua Bidang Kesehatan Gugus Tugas Pengendalian Covid-19 Kota Batam, dr Didi Kusmarjadi, SPoG, mengaku belum punya pilihan, apabila terjadinya lonjakan pasien
Covid-19 yang membutuhkan ruangan ICU.

”Wah, itu agak susah bicara. Secara teknis memang bisa ambah jumlah tempat tidur,
tapi masalahnya alat-alatnya. Isolasi ICU ini berbeda (dari ruang isolasi biasa), (membangunnya) membutuhkan biaya yang cukup besar,” kata Didi yang juga Kepala
Dinas Kesehatan Batam.

Ia mencontohkan, ruangan ICU membutuhkan tekanan negatif. Namun, biaya untuk menciptakan ruangan bertekanan negatif itu, di kisaran Rp400 juta.

Apabila menambah alat, tentunya sangat berat bagi rumah sakit milik pemerintah maupun swasta.

”Tak ada cara lain, kecuali menekan jumlah pasien. Sebab, rumah sakit tidak mungkin
memulangkan orang-orang yang belum sembuh,” tuturnya.

Berbeda dengan BOR isolasi Covid-19, penambahan gedung atau ruangan, tidak memerlukan alat-alat khusus.

Sedangkan BOR ICU membutuhkan berbagai peralatan yang cukup banyak dan rumit.

”BOR ICU memang sempat tinggi. Sementara BOR isolasi Covid-19 masih cukup,” jelasnya.

Didi meminta masyarakat sadar akan protkes, karena penyebaran Covid-19 sedang tinggi.

”Kasus terlalu tinggi, dan menyasar sekian persen orang- orang terdampak berat,” ucap-
nya. ”Kasus semakin banyak, yang terdampak berat semakin banyak juga, begitu juga yang meninggal,” sebutnya.

Didi meminta kepada orang-orang yang sudah berumur di atas 40-an tahun, segera datang ke pusat-pusat vaksinasi.

Apalagi, saat ini puskesmas juga sudah bisa melaksanakan vaksinasi.

”Daftar ke RT dan RW segera, biar agar divaksin. Vaksin dapat meminimalisir
penyebaran dan dampak berat dari Covid-19,” katanya.

Hal ini bukan tanpa alasan. Dari data gugus tugas, jumlah kematian tertinggi ada di rentang umur 40 tahun ke atas.

Umur 40 hingga 55 tahun ada 78 orang yang meninggal akibat Covid-19, rentang 56 hingga 65 sebanyak 66 orang meninggal, dan di atas 65 tahun sebanyak 41 orang
meninggal.(jpg)