batampos.co.id – Pertumbuhan ekspor Kepri terus membaik di tengah masifnya penyebaran Covid-19.

Hal tersebut bisa dilihat dari pertumbuhan industri pengolahan yang tumbuh dari 6,50 persen menjadi 7,33 persen pada triwulan pertama 2021.

Menurut Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri, Musni Hardi, kinerja industri pengolahan yang stabil mampu mendorong pertumbuhan ekspor.


”Industri barang komputer dan barang elektronik merupakan pendorong kinerja industri pengolahan, karena permintaannya yang meningkat saat pandemi,” kata Musni, Jumat (25/6/2021) seperti yang diberitakan Harian Batam Pos.

Adapun industri barang dari logam, komputer, barang elektronik, dan optik tumbuh hingga 23,53 persen pada triwulan pertama 2021.

”Tren ini melanjutkan pertumbuhan positif sejak triwulan III 2020, dimana jenis industri ini tumbuh 10,33 persen,” jelasnya.

Selain itu, industri kimia, farmasi, dan obat tradisional juga menunjukkan kinerja yang menggembirakan saat pandemi Covid-19 masih menghantam perekonomian Batam.

”Pertumbuhan positif mulai sejak triwulan IV 2020 yang tumbuh 20,15 persen, kemudian berlanjut di triwulan I 2021 dengan pertumbuhan 27,80 persen,” sebutnya.

Secara keseluruhan, total ekspor Kepri hingga Mei 2021 mencapai 6,33 miliar dolar Amerika Serikat (AS), dimana kontribusi terbesar pada ekspor non migas sebesar 5,12 miliar dolar AS.

”Mesin dan produk elektronik menyumbang 33 persen dari total ekspor non migas Kepri. Kemudian bahan bakar mineral sebesar 18 persen,” imbuhnya.

Pemulihan ekonomi global juga berdampak pada perekonomian Kepri. Data terbaru dari IMF World Economic Outlook per April 2021 menunjukkan, pertumbuhan ekonomi global
tumbuh 5,7 persen.

Sehingga ekspor Kepri pun bisa lancar, dengan tujuan utama Singapura sebanyak 29,81 persen, Tiongkok sebanyak 26,35 persen, Amerika Serikat sebanyak 17,27 persen, Jerman sebanyak 2,53 persen dan Jepang sebanyak 2,49 persen.

”Singapura mengimpor elektronik, mesin, produk besi, dan baja dari Kepri. Sementara Tiongkok mengimpor produk olahan CPO, bahan kimia dan elektronik,” jelasnya.

Kenaikan ekspor diikuti juga oleh kenaikan impor yang tinggi, karena besarnya import content, sehingga mengurangi dampak neto terhadap pertumbuhan ekonomi.

”Ekpsor memang meningkat sebesar 0,67 persen (year on year/yoy). Namun pada saat bersamaan impor juga meningkat sebesar 1,79 persen (yoy), terutama komponen elektronik dan mesin yang memiliki import content tinggi,” terangnya.

Menurut Musni, pengembangan industri di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang memiliki kandungan impor tinggi menyebabkan neto nilai tambah ekspor-impor terhadap pertumbuhan ekonomi menjadi kurang signifikan.

Terpisah, General Manager PT Rubicon Indonesia, Ridarma Budi Siregar, mengatakan, kinerja industri manufaktur terbilang bagus di tengah pandemi.

”Orientasi perusahaan industri di Batam itu ekspor. Jadi tidak begitu berdampak akibat pandemi ini,” ungkapnya.

Ia mengungkapkan, selama pandemi, banyak kastomer Rubicon di luar negeri meminta garansi agar jangan sampai barang impornya terganggu.

”Kami buat peralatan keselamatan seperti respirator dan mereka meminta agar jangan sampai terganggu impornya. Jadi saat ini, bisnis kita masih bagus,” jelasnya.

”Mungkin saat Malaysia dan Singapura lockdown tahun lalu, pengaruh terhadap kita,
karena impor bahan baku dari sana. Pengaruhnya sekitar 40 hingga 50 persen. Tapi sekarang sudah normal,” ungkapnya.(jpg)