batampos.co.id – Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Batam mencatat, sepanjang
tahun 2021 ini, total perusahaan yang menutup operasinya naik dua kali lipat dibandingkan tahun 2020 lalu.

Hal ini tidak lepas dari dampak pandemi Covid-19. Kepala Disnaker Batam, Rudi Sakyakirti, mengatakan, terdapat 28 perusahaan yang tutup tahun ini. Angka ini lebih besar dari tahun lalu yang mencapai 12 perusahaan.

Mayoritas, perusahaan yang tutup beroperasi bergerak di bidang perhotelan, jasa, dan industri. Ia merinci, total hotel yang tutup sebanyak 17, industri 3, dan sisanya bergerak di bidang jasa.


Akibat pandemi Covid-19, sektor perhotelan yang paling terdampak, karena ditutupnya pintu masuk wisatawan mancanegara (wisman).

Selama ini, sektor perhotelan ini mendapatkan pendapatan dari tingkat okupansi atau hunian yang mayoritas tamu hotel didominasi wisman.

”Ada kenaikan perusahaan yang tutup. Mungkin memang karena mereka kesulitan bertahan menghadapi kondisi saat ini. Sebab, sudah masuk tahun kedua pandemi ini ber-
jalan,” ungkap Rudi, Senin (28/6).

Rudi mengakui, mayoritas sektor perhotelan ini sudah mencoba bertahan sejak tahun
pertama masuknya Covid-19.

Pada tahun pertama, total perusahaan yang tutup sebanyak 12 perusahaan, dan itu juga didominasi perusahaan yang bergerak di bidang perhotelan.

Ilustrasi pekerja di Kota Batam. Foto; Dalil Harahap/batampos.co.id

”Masih sama dengan tahun lalu. Karena mereka sudah berusaha bertahan, namun tidak sanggup. Karena perusahaan yang terus merugi, manajemen memilih menutup usaha mereka,” ujarnya.

Mengenai hak karyawan di perusahan yang tutup, Rudi menambahkan, sejauh ini tidak ada laporan terkait perusahaan yang tidak menunaikan kewajiban mereka.

Menurutnya, sebelum perusahaan melakukan penutupan usaha mereka, sudah terlebih dahulu menyelesaikan hak-hak karyawan.

”Biasanya itu sudah diselesaikan dulu, baru mereka memutuskan tutup. Kalau pun ada, itu pasti perusahaannya susah kolaps, dan meminta perusahaan berusaha dan berupaya untuk menuntaskan kewajiban mereka terhadap perusahaan,” bebernya.

Mengenai sektor industri yang tutup itu merupakan perusahaan kecil, dan jumlah
tenaga kerjanya tidak banyak.

Tahun ini, menurutnya, masih cukup berat bagi perusahaan di semua sektor. Namun, bu-
kan berarti tidak ada perkembangan.

Sebab, sampai saat ini perusahaan di kawasan Mukakuning dan Batamindo masih rutin membuka lowongan pekerjaan untuk tenaga operator.

”Itu buktinya kalau sektor industri masih berjalan. Namun, memang bila dibandingkan sebelum-sebelumnya, jumlahnya menurun. Setidaknya, industri yang besar masih bertahan sampai saat ini,” tutupnya.

Sebelumnya, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batam, Mansyur, mengatakan, lonjakan kasus Covid-19 sangat berdampak pada bisnis perhotelan.

”Pastinya sangat berdampak. Terutama untul hotel yang tidak ditunjuk untuk karantina (pasien Covid-19),” kata Mansyur.

Dampak pandemi juga membuat beberapa hotel beralih manajemen ke pihak lain. Sebab, rata-rata pendapatan hotel di Batam sangat minim, terutama pasca Lebaran karena kasus Covid-19 melonjak.

”Rata-rata di bawah 20 persen, bagaimana mau survive (bertahan)? Kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Conference, and Exhibition) sudah enggak boleh,” ujar Mansyur.

Menurut dia, saat ini pihak hotel mencoba bertahan dengan kondisi pendapatan yang minim. Di antaranya dengan mengefisiensikan berbagai hal, termasuk pengeluaran
hotel.

Karena itu, ia berharap pemerintah terutama Tim Gugus Tugas bisa benar-benar melakukan pengawasan terhadap kondisi Covid-19.

Terutama, dalam menelusuri penyebab kembali tingginya angka kasus. Di sisi lain, ia berharap juga bisa mendapat stimulus dari pemerintah.

Terutama, dalam memberi keringanan pajak dan lainnya.

”Untuk keringanan pajak sudah diajukan sebelum puasa kemarin, tapi sampai saat ini belum ada tanggapan. Padahal, besar harapan kami dapat keringanan,” tutur Mansyur.

Sementara, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Ardiwinata, membenarkan kondisi bisnis perhotelan yang masih lesu.

Namun, ia yakin manajemen hotel punya cara untuk bisa tetap bertahan.

”Kondisi perhotelan fluktuatif. Tapi yakin, manajemen hotel sudah punya trik untuk bisa tetap beroeprasi,” jelas Ardi.(jpg)