batampos.co.id – Sejumlah masyarakat yang kontak erat dengan pasien Covid-19 terbebani biaya rapid test antigen di klinik pariwisata Lagoi, Kecamatan Teluk Sebong. Mereka terpaksa mengeluarkan biaya Rp 150 ribu untuk sekali rapid test antigen.

Salah seorang warga yang tinggal di Kecamatan Teluk Sebong, Bintan menuturkan, awalnya ada salah satu orang warga dinyatakan Covid-19. Setelah dilakukan tracing oleh petugas, dirinya sempat kontak erat dengan pasien tersebut. Kemudian, dia diminta melakukan pemeriksaan Covid-19. ”Diarahkan ke klinik pariwisata Lagoi,” ujarnya.

Setelah pemeriksaan rapid test, dia mengaku harus membayar biaya sekira Rp 150 ribu. Dia mengaku agak terbebani biaya rapid test karena dirinya melakukan tes rapid antigen berdasarkan hasil tracing.


”Harusnya yang rapid test dari hasil tracing tidak bayar,” ujarnya.

Dia juga mengatakan, harusnya petugas dari puskesmas yang datang ke rumahnya. ”Kami lagi isolasi mandiri, harusnya petugas yang datang ke rumah,” ujarnya.

Sementara Kepala Puskesmas Sungai Kecil, Muslim menjelaskan, klinik pariwisata Lagoi merupakan badan layanan usaha daerah (BLUD) di bawah puskesmas, namun berdiri secara mandiri. ”Di Bintan, puskesmas yang sudah BLUD ada lima,” sebutnya.

Karena berdiri secara mandiri, klinik pariwisata Lagoi layaknya seperti berobat di klinik swasta. ”Sama seperti masuk klinikswasta,” ujarnya.

Dia juga mengatakan, masyarakat yang hasil tracingnya ada kontak erat dengan pasien Covid-19 harus melakukan pemeriksaan Covid-19 untuk mengetahui terpapar atau tidak.

Untuk hal ini, petugas kesehatan dari puskesmas, menurut Muslim sudah mengarahkan masyarakat yang kontak erat dengan pasien Covid-19 untuk melakukan pemeriksaan Covid-19 di puskesmas.

”Biaya pemeriksaan di puskesmas gratis,” ujarnya.

Namun, masih katanya, hasil swab jika melakukan pemeriksaan Covid-19 di puskesmas memerlukan waktu sekira 1 hingga 3 hari. ”Mungkin karena tidak sabar menunggu hasilnya, ada warga yang melakukan pemeriksaan Covid-19 di klinik pariwisata Lagoi,” katanya.

Disinggung apakah uang masyarakat yang melakukan pemeriksaan karena kontak erat dengan pasien Covid-19 bisa dikembalikan? ”Tidak bisa, karena kalau dikeluarkan (uang yang sudah masuk ke klinik) bisa menjadi temuan pemeriksaan keuangan,” ujarnya.

Kadis Kesehatan Bintan, dr Gama AF Isnaeni mengatakan, pasien yang hasil tracing harusnya tidak dibebani biaya pemeriksaan Covid-19. ”Kalau tracing ya gratis, nanti kita cek,” ujarnya. (*/jpg)