batampos.co.id – Selain RS Elizabet Lubukbaja dan RSAB yang penuh pasien Covid-19,
pasien juga banyak dirawat di Asrama Haji Batam di Batam Center.

Bahkan masih jadi lokasi karantina dengan jumlah pasien tertinggi yang dirawat. Total sampai kemarin ada 436 orang dirawat.

Sisanya 107 orang di RSUD Embung Fatimah, 62 orang di Rumah Sakit Awal Bros, 49 di Rumah Sakit Elisabeth Batam Kota, dan 43 orang di RSKI Galang.


Wadir Pelayanan Medik RSUD Embung Fatimah, Sri Rupiati, kepada Batam Pos mengakui ada peningkatan pasien Covid-19 di awal pekan ini dibanding pekan sebelumnya yang masih diangka 79 pasien.

Ini artinya, penyebaran Covid-19 di Batam masih sangat rawan, sehingga perlu peran aktif dan kesadaran semua pihak untuk sama-sama menekan laju penyebaran pandemi Covid-19.

”Hari ini (kemarin, red) sudah 107 orang. Ruangan Tulip, Teratai, dan Anyelir rawat inap kami manfaatkan untuk merawat pasien-pasien ini. Ruangan di Gedung Tun Sendari Terpadu sudah penuh semua,” ujar Sri.

Didi juga membenarkan saat ini ruang perawatan sudah terisi 87 persen, sedangkan untuk ICU 73 persen.

”Memang sudah mulai terisi untuk BOR namun masih ada ruangan,
walau tidak banyak,” sebutnya.

Terkait keluhan anggota DPRD Batam, Lik Khai, soal saudaranya yang dinyatakan positif Covid-19 namun sempat tak tertangani dengan baik, Didi mengatakan bahwa pihaknya sudah menangani di RSUD Embung Fatimah.

Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, juga membenarkan tingkat hunian rumah sakit
memang mulai padat akibat banyaknya pasien yang bergejala.

Untuk mengantisipasi, ia berharap RSKI bisa dioptimalkan untuk merawat pasien yang tak
tertampung di RS.

”Mungkin ada beberapa persen untuk pasien Covid lain, selain PMI. Karena memang harus ada ruang perawatan cadangan sebagai antisipasi jika ruang perawatan di rumah sakit penuh,” sebutnya.

Sementara, jumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) dari lokasi karantina rusunawa di
Tanjunguncang yang terpapar Covid-19 terus bertambah.

Terakhir ada delapan orang yang kembali terkonfirmasi positif. PMI dari Malaysia yang terdeteksi saat melakukan swab pertama di Pelabuhan Internasional Batam Center
beberapa hari yang lalu.

Guna penanganan lebih lanjut, delapan PMI tersebut sudah dievakuasi ke rumah sakit
khusus infeksi (RSKI) Galang.

”Jumlah semua PMI yang masih dikarantina ada pada hari ini ada 284 orang,” ujar dr
Anggitha, petugas medis yang menangani kesehatan para PMI di Rusunawa, kemarin.

Secara umum, jumlah PMI yang terpapar Covid-19 terus bertambah dalam dia pekan
belakangan ini.

Dua pekan sebelumnya sempat naik hingga angka belasan orang, pekan lalu total ada sekitar 50-an orang dan awal pekan ini ada penambahan delapan orang.

”Yang masih dikarantina ini juga belum tentu semuanya negatif karena masih menunggu hasil swab kedua,” ujar dr Anggitha.

Para PMI yang baru pulang dari luar negeri ini jalani karantina di tiga rusunawa yakni rusunawa BP Batam, Pemko Batam Tanjunguncang I dan rusunawa Pemko Batam Tanjunguncang II di Tanjunguncang, kecamatan Batuaji.

Sebelum melanjutkan perjalanan ke daerah asal masing-masing mereka harus melewati dua kali swab dengan hasil swab kedua-duanya negatif.

Jika positif, maka harus menjalani perawatan medis di RSKI hingga sembuh. Di tempat terpisah, ahli epidemiologi Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko, menyatakan secara tegas, agar GeNose yang dipakai di sejumlah bandara dan pelabuhan di Indonesia agar tidak digunakan lagi sebagai skrining awal Covid-19.

”Semuanya (seluruh Indonesia, red) harusnya, menurut saya jangan dipakai lagi alat ini (GeNose). GeNose kurang baik dan tingkat keakuratannya rendah,” kata Miko, Senin (28/6).

Ia meminta pemerintah agar menggunakan skrining menggunakan alat swab antigen atau PCR. Kedua alat tersebut memiliki tingkat keakuratan yang cukup tinggi. Sehingga dapat melakukan skrining lebih baik dibandingkan GeNose.

”GeNose memang salah satu biang penyebab (tingginya Covid-19), tapi paling utama itu masyarakatnya (mobilitas tinggi dan abai akan protokol kesehatan),” tutur Miko.

Terkait pendapat para ahli epidomologi, Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas I Batam, Achmad Farkhani, mengaku sudah mendengarnya.

“Terus terang, saya belum dapat informasi pasti penghapusan GeNose. Ini wacana yang disampaikan ahli epidomologi,” tuturnya.

Ia mengatakan, aturan Ge-Nose bukan datang dari Kementerian Kesehatan. Penggunaan GeNose awalnya dicetuskan oleh Kementerian Perhubungan, untuk skrining bagi penumpang yang akan naik kereta api di Jakarta.

Namun, pengunaan GeNose diperluas setelah adanya aturan dari Gugus Tugas Covid-19 di Jakarta. Melalui SE No 12 Tahun 2021, Ge-Nose resmi sebagai pra syarat perjalanan keluar daerah, baik menggunakan transportasi darat, laut maupun udara.

”Nah, makanya GeNose dipakai di bandara dan pelabuhan saat ini,” ucapnya.

Farkhani menyatakan belum ada aturan baru atau penghapusan GeNose oleh pemerintah pusat. Hingga saat ini, masyarakat dapat menggunakan GeNose sebagai syarat perjalanan ke luar daerah.

”Pakai GeNose masih boleh keluar, tidak ada larangan. Karena saya belum dapat aturan baru, masih merujuk ke aturan lama,” tuturnya.