batampos.co.id – Terkait warga Perumahan Kezia Residence, Lubukbaja, bernama Toni Lukita yang meninggal di rumahnya setelah tak tertampung di RS Elizabeth Batam karena penuh, Senin (28/6) pagi, Kapolsek Lubukbaja, AKP Satria Nanda, membenarkan kejadian tersebut.

”Iya, pria 76 tahun ini meninggal setelah dinyatakan positif Covid-19 dan menjalani isolasi mandiri,” ujar Satria seperti yang diberitakan Harian Batam Pos.

Ia menjelaskan, Toni sempat mengeluhkan sakit pada Minggu (27/6) siang. Kemudian, pihaknya melalui Babinkamtibmas membawa Toni ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.


”Kami bawa ke RS Elisabeth Lubukbaja dan Awal Bros. Memang di sana full, karena angka Covid tengah melonjak,” ujarnya.

Setelah tidak mendapatkan penanganan medis dari pihak rumah sakit, Toni dibawa kembali ke rumahnya. Kemudian, mendapatkan penanganan dari Posko Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

”Akhirnya diisolasi mandiri. Di rumah itu ada yang ngurus, ada keluarganya. Kalau anaknya di Singapura,” jelasnya.

Satria menambahkan, meninggalnya Toni bukan merupakan kesalahan pihak rumah sakit maupun tenaga medis.

”Kalau rumah sakit pastinya ingin memberikan pelayanan terbaik buat masyarakat. Tidak ada penolakan dari rumah sakit, kami langsung mengecek ke sana dan memang full,” tegas dia.

Pihaknya langsung melakukan penyemprotan disinfektan di perumahan tersebut.

”Sudah langsung disemprot dan diberikan imbauan langsung kepada warga sekitar untuk tetap menjalankan protokol kesehatan,” terangnya.

Sementara itu, Penanggung Jawab tiga RS Elizabeth di Batam yang juga Pjs Direktur
RS Elisabeth Batam Center, dr Sahat H Siahaan, MARS, mengatakan, saat pasien atas
nama Toni Lukita datang, RS Elisabeth Lubukbaja dalam keadaan penuh.

”Kami punya 38 bed (tempat tidur) di RSE Lubukbaja dan itu penuh semua. Bahkan bed
UGD untuk pasien biasa juga penuh. Sehingga kami perlu waktu koordinasi dengan
Rumah Sakit Elisabeth lainnya seperti Batam Kota dan Seikekop,” kata dr Sahat, Senin (28/6).

Sahat mengaku, tim Satgas Covid-19 RS Elisabeth Lubukbaja cukup lama mencari bed yang kosong di Rumah Sakit Elisabeth di Batam Kota dan Seilekop.

”Begitu ada bed kosong, dokter kami keluar. Pasiennya sudah tidak ada. Kami memang meminta pasien tetap berada dalam mobil karena sudah terkonfirmasi positif Covid-19. Pasien ini tentu tidak mungkin diletakkan begitu saja, tanpa ruang isolasi,” ucapnya.

Tanpa ada koordinasi dengan pihak rumah sakit, Toni pergi begitu saja. Selain itu, sejak datang ke rumah sakit, anak dari Lukita hanya menanyakan soal bed pasien Covid-19.

”Anaknya cuman nanya saja dan tidak menjelaskan kondisi orangtuanya saat itu,” tuturnya.

Sahat tidak mengetahui bahwa Lukita dibawa pulang keluarganya ke rumah.

”Tiba-tiba sudah ada kabar dari medsos saja,” ungkapnya.

Terkait pasien Covid-19, Sahat mengaku pihaknya selalu menerima dan tidak menolak. Namun, keterbatasan tempat tidur dan ruang isolasi, kadang menjadi masalah.

”(RS Elisabeth) Lubukbaja full, yang kosong itu Batam Kota tersisa empat bed saja,” tuturnya.

Ia berharap kepada masyarakat segera melaporkan diri atau membawa ke rumah sakit apabila memiliki gejala Covid-19.

Sehingga masyarakat dapat penanganan lebih dini. Sahat mengatakan, apabila Covid-19 dibiarkan terus menerus dapat menimbulkan gejala berat.

”Apabila ada gejala, segera saja laporkan. Selain itu, pelaporan dapat dilakukan berjenjang mulai dari puskesmas. Karena pihak puskemas bisa hubungi tim gugus tugas
dan segera mengetahui rumah sakit yang kosong,” imbuhnya.