batampos.co.id – Kasus Covid-19 di Batam semakin mengganas. Bahkan, pada 3 Juli, tercatat rekor terbaru jumlah kasus harian Covid-19 mencapai 382 orang positif, tertinggi sejak Covid-19 ditemukan di Batam 2020 lalu. Ditambah lagi tujuh orang meninggal dunia.

Tak hanya itu, kasus harian per 4 Juli kemarin juga masih tetap tinggi. Tim Gugus Tugas Covid-19 Kota Batam mencatat ada 221 kasus baru, mayoritas bergejala dan dua orang meninggal dunia.

Melihat kenyataan ini, ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kepri, dr Rusdani, mengatakan, angka ini cukup mengkhawatirkan, sehingga sangat diperlukan kesadaran masyarakat dalam menjaga mobilitas dan menjalankan protokol kesehatan (protkes).


”Kami di nakes (tenaga kesehatan) ini, hilir dari semua ini. Ada yang positif kami tangani, tapi hulunya di masyarakat. Tolong masyarakat mematuhi protokol kesehatan yang ada, sehingga kasus ini dapat menurun,” tegas Rusdani.

Namun, ia memahami karakteristik masyarakat di Batam. Walaupun sudah mulai banyak yang mematuhi protkes, tapi masih banyak juga yang tidak patuh. Akibatnya, kasus Covid-19 Batam dapat terus meningkat.

Untuk menurunkan kasus ini, menurutnya ada berbagai cara. Salah satunya vaksinasi yang terus gencar dilakukan. ”Langkah pemerintah mempercepat vaksinasi sudah tepat. Tapi bila kasus meningkat terus, PSBB (PPKM Darurat, red) seperti Jawa dan Bali bisa dilakukan,” ujarnya.

Namun, sebelum langkah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat diambil, perlu kajian mendalam atau mencari opsi lainnya. Yakni membatasi ruang gerak masyarakat atau PPKM skala mikro lebih diperketat.

Ia yakin, jika langkah ini dilakukan dapat menurunkan angkat kasus Covid-19. ”Saat ini, sudah memasuki musim liburan anak sekolah. Tentunya, pemerintah perlu memikirkan cara agar penyebaran kasus Covid-19 tidak semakin masif. Maka caranya itu, membatasi gerak masyarakat,” tegasnya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kepri, M Bisri, mengamini saran IDI Kepri tersebut. Ia mengatakan, kasus Covid-19 Batam peningkatannya sudah hampir mirip kasus-kasus di Jawa. ”Saya apresiasi apa yang telah dilakukan Wali Kota Batam. Hanya saja perlu diketatkan lagi (PPKM mikro, red),” ungkapnya.

Pengetatan ini demi membatasi ruang gerak masyarakat. Sebab setiap masyarakat ke luar dari rumah, potensi ter tular itu selalu terjadi. Batam, lanjut Bisri, perlu meniru langkah-langkah yang dilakukan Tanjungpinang. Pemerintah Tanjungpinang melakukan pemeriksaan antigen di beberapa pusat kegiatan masyarakat.

”Nah, di Tanjungpinang ditemukan di pasar, ternyata dari 100 orang ada 30 orang positif. Langkah seperti ini sudah bagus, dan lebih bagus seperti Tiongkok yang swab seluruh masyarakatnya. Saya jamin dalam dua minggu kasus Covid-19 turun. Tapi setidaknya bisa gunakan cara Tanjungpinang saja sudah bagus,” ujarnya.

Bisri mengatakan, selain inisiatif dari pemerintah daerah, salah satu faktor penting menurunkan angka Covid-19 adalah perilaku masyarakat. ”Harus sebijak mungkin menjaga dirinya,” terangnya.

Sementara itu, Wali Kota Batam, Muhammad Rudi, mengaku, penyebaran Covid-19 di Batam jauh lebih berbahaya dari tahun lalu saat pertama kali dikonfirmasi di Batam. Jumlah pasien meninggal meningkat tajam, angka kasus aktif juga terus bertambah.

”Dulu, cuma satu kasus sudah ketakutan luar biasa. Sekarang malah banyak yang meninggal responsnya biasa saja. Padahal, Covid-19 hari ini (sekarang, red) lebih berbahaya,” tegasnya saat dijumpai di SMPN 3 Batam, Minggu (4/7).(*/jpg)