batampos.co.id – Wali Kota Batam, Muhammad Rudi, mengaku, penyebaran Covid-19
di Batam jauh lebih berbahaya dari tahun lalu saat pertama kali dikonfirmasi di Batam.

Jumlah pasien meninggal meningkat tajam, angka kasus aktif juga terus bertambah.

”Dulu, cuma satu kasus sudah ketakutan luar biasa. Sekarang malah banyak yang
meninggal responsnya biasa saja. Padahal, Covid-19 hari ini (sekarang, red) lebih berbahaya,” tegasnya saat dijumpai di SMP Negeri 3 Batam, Minggu (4/7/2021).


Ia mengungkapkan, sudah 1 tahun 4 bulan Batam berjibaku dengan virus corona. Pasien
pertama itu hanya satu orang, dan sekarang sudah mencapai angka dua ribu lebih, dengan total kematian mencapai 322 orang.

”Coba lihat di Seitemiang (tempat pemakaman umum Seitemiang, red), setiap hari ada yang dimakamkan dan jumlahnya lebih dari satu orang setiap harinya,” sebutnya seperti yang diberitakan Harian Batam Pos.

Dari pemerintah, Rudi mengaku diberikan tugas untuk mengendalikan virus ini. Pemerintah wajib menjaga kesehatan warganya.

Sampai saat ini belum bisa diperkirakan kapan kasus ini akan tuntas. Untuk itu, dip-
erlukan bantuan seluruh masyarakat agar bisa mencegah penyebaran.

”Ikuti 5M dan vaksinasi. Selain itu, tolong patuhi protkes ketika berada di lingkungan keluarga, kantor, dan lainnya. Saya inginnya kasus ini berhenti, dan angka kesembuhan meningkat. Saat ini jumlah pasien dirawat 2.342 dengan total 14.424 kasus sejak pertama kali ditemukan 2020 lalu,” ungkapnya.

Para tenaga medis saat menangani pasien Covid-19 di Asrama Haji Kota Batam. Asrama Haji Kota Batam akan dijadikan rumah sakit darurat apabila jumlah pasien Covid=19 terus bertambah. Foto: BP Batam untuk batampos.co.id

Disinggung mengenai tingginya angka kasus beberapa hari ini, Rudi menjelaskan, pihaknya sudah melakukan upaya seperti penindakan dan pemberlakuan PPKM skala mikro sesuai arahan pemerintah pusat.

Saat ini tempat makan sudah take away semua, dan tidak ada makan di tempat. Pusat perbelanjaan juga diminta mematuhi aturan yang ada.

”Jadi, sudah dijalankan semua. Tapi kalau PPKM Darurat, kita tidak lakukan karena itu khusus untuk mereka yang tinggal di Jawa dan Bali. Evaluasi dari penindakan sudah dijalankan. Intinya tetap pada protkes dan penindakan,” tegasnya.

Mengenai penutupan tempat-tempat yang menimbulkan keramaian seperti pasar, wali kota menegaskan tidak akan menutup karena menyangkut ekonomi masyarakat.

Pihaknya akan minta tim satgas untuk turun dan melakukan penindakan kepada mereka yang melanggar, serta sosialisasi penerapan 5M (memakai masker, mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, serta membatasi mobilisasi dan interaksi).

Saat ini pihaknya sudah menyiapkan rumah sakit darurat sebagai langkah antisipasi perawatan pasien bergejala.

”Asrama Haji akan kami kosongkan sebentar lagi dan pasien OTG (orang tanpa gejala) akan digeser ke rusun. Fasilitas sudah ada, namun terkendala di tenaga medis. Makanya, saya minta ke Pak Gubernur agar bisa membantu, agar penanganan pasien ini bisa cepat teratasi,” ujarnya.

Jika penambahan kasus masih terjadi, maka pihaknya juga akan memfungsikan
Bapelkes (Balai Pelatihan Kesehatan) sebagai rumah sakit darurat.

Namun demikian, ia menegaskan, saat ini rumah sakit masih bisa mengatasi pasien. Tapi jika kasus terus melonjak, pemerintah bisa meminta ruang atau occupancy khusus pasien Covid-19 ini untuk ditingkatkan.

Selain itu, Dinkes Kota Batam kembali mengirim pasien Covid-19 dari masyarakat umum (non-PMI/pekerja migran Indonesia) untuk mendapatkan perawatan di RSKI Galang.

Ini merupakan langkah untuk mengatasi lonjakan kasus yang terjadi beberapa hari belakangan ini.

”Kemarin kita diberikan 100 kuota. Semalam sudah dikirim 50 atau 70 pasien ke sana.
Belum penuh memang, masih ada kapasitas,” kata Kepala Dinkes Batam, dr Didi Kusmarjadi, SPoG, kemarin.

Saat ini, perawatan pasien tidak hanya dilakukan di rumah sakit dan Asrama Haji Batam, namun ada juga yang menjalani isolasi mandiri di rumah.

Mereka diizinkan isolasi mandiri jika tidak bergejala atau bergejala ringan. Sebab, daya
tampung di Asrama Haji Batam tidak mencukupi untuk menampung semua pasien.

”Ada 1.300 yang isoman (isolasi mandiri). Sekarang sudah ada panduan untuk
isoman. Saya minta puskesmas sosialisasikan soal ini, agar viral. Di media sosial juga
sudah banyak beredar. Namun jika kondisi memburuk akan kami evakuasi,” tuturnya.

Didi menambahkan, saat ini ruang perawatan untuk pasien Covid-19 masih cukup. Namun, saat ini rumah sakit juga diminta menyediakan 30 persen dari kapasitas ruang perawatan mereka untuk merawat pasien Covid-19.(jpg)