batampos.co.id – Pemerintah Provinsi Kepri belum mengeluarkan kebijakan apapun terkait persoalan daya tampung SMA dan SMK di Kota Batam.

Pihak sekolah masih tetap dengan kuota Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) awal sehingga belum bisa mengakomodir siswa yang tidak lolos pada PPDB sebelumnya.

Seperti diketahui PPDB SMA dan SMK untuk tahun ajaran 2021- 2022 sudah selesai dan banyak siswa yang tidak lolos.


Orangtua yang anaknya tidak lolos PPDB tadi, tidak terima dan berusaha mendatangi sekolah yang dituju.

Mereka berharap agar sekolah kembali mengakomodir anak-anak mereka. Pihak sekolah belum mengambil keputusan apapun sebab kebijakan ini ada ditangan pemerintah provinsi Kepri.

”Sejauh ini belum ada arahan dari gubernur jadi kita tetap dengan kuota awal,” ujar
Kepala SMKN 5 Batam, Agus Syahrir, Senin (6/7/2021) seperti yang diberitakan Harian Batam Pos.

Ilustrasi. Para wali murid menunggu di depan pintu masuk SMA Negeri 3 Kota Batam. Mereka menunggu kedatangan panitia PPDB SMA Negeri 3 untuk mencari solusi bagi anak-anaknya yang tidak diterima di sekolah tersebut. Foto: Messa Haris/batampos.co.id

Dijelaskan Agus, untuk kebijakan lebih lanjut, ada di tangan Gubernur Kepri, Ansar Ahmad. Namun, sejauh ini belum ada arahan dari gubernur sehingga mereka belum bisa mengambil keputusan apapun.

Upaya pihak sekolah saat ini hanya bisa menampung keluhan orangtua calon siswa tadi untuk diteruskan ke Dinas Pendidikan Provinsi Kepri dan Gubernur Kepri.

”Ada sekitar 300an siswa yang tak lolos di PPDB kemarin. Untuk sementara tetap kami data dan terima keluhan mereka. Keputusan tetap di tangan pak Gubernur,” kata Agus.

Begitu juga dengan SMKN I Batam. Hingga siang kemarin, sekolah masih dengan kuota awal PPDB. Persoalan siswa tidak tertampung juga dialami di SMAN 3 Batam.

SMAN 3 Batam telah menyelesaikan (PPDB) 2021 dengan 2.193 pendaftar. Namun hanya 288 orang siswa yang diterima di SMAN 3, melalui jalur zonasi, prestasi dan afirmasi.

Kepala Sekolah SMAN 3 Batam, Vivi Kusuma, mengatakan, bahwa SMAN 3 menerima
siswa baru untuk delapan rombongan belajar (rombel).

”Satu untuk kelas bahasa, dan tujuh untuk kelas reguler,” kata Vivi, Selasa (6/7).

Penerimaan siswa ini sesuai dengan jumlah kelas yang ada. Vivi mengaku tidak ada penambahan rombel, dikarenakan tidak ada lagi area kelas untuk siswa.

”Satu rombel itu terdiri dari 36 siswa, tidak kurang atau lebih,” tuturnya.

Tidak adanya penambahan rombel atau jumlah siswa yang diterima ini, sesuai dengan surat edaran dari Gubernur Kepri.

Penerimaan tersebut harus sesuai dengan kapasitas sekolah. Vivi mengaku pengenalan dan pembelajaran masih dilakukan dengan daring.

Batam masih masuk zona merah, sehingga pembelajaran tatap muka ditiadakan sementara waktu.

Walaupun begitu, Vivi sudah mempersiapkan siswanya menjalani pembelajaran tatap muka. Siswa kelas 2 dan 3, sudah menjalani vaksin tahap pertama.

”Untuk siswa yang baru masuk, kami akan koordinasikan dengan puskesmas atau Dinkes, agar bisa mendapatkan vaksin,” tuturnya.

Vivi berharap pandemi ini segera berakhir. Sehingga proses belajar mengajar kembali normal.(jpg)