batampos.co.id – Penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di Jawa dan Bali turut berimbas terhadap arus lalu lintas penumpang
di Bandara Internasional Hang Nadim, Batam.

Adanya kewajiban tes PCR, tes antigen, serta melampirkan sertifikat vaksinasi membuat masyarakat memilih menunda perjalan ke luar kota.

Ani, salah seorang warga menuturkan terpaksa menunda perjalanan akibat penge-
tatan yang dikeluarkan pemerintah.


Rencananya, ia bersama suami dan anak akan berangkat ke kampung halamannya di Jawa Barat.

”Rencana berangkat tanggal 10 Juli ini, kemarin sudah pesan tiket ke Jakarta, namun karena adanya aturan yang mewajibkan tes PCR jadi kami tunda dulu,” sebutnya, Selasa (6/7/2021) seperti yang diberitakan Harian Batam Pos.

Ia menjelaskan informasi yang diterima sering berubah-ubah, sehingga membuat masyarakat juga kebingungan, dan khawatir.

Ilustrasi. Petugas KKP Kelas I Kota Batam saat memeriksa surat rapid test dan swab test para penumpang yang akan berangkat dari Bandara Internasional Hang Nadim Batam. Foto: BP Batam untuk batampos.co.id

Sebab biaya yang dikeluarkan lebih banyak dari sebelumnya.

”Awalnya antigen aja, kemudian nambah PCR, dan sekarang vaksin. Karena tujuan mau ke Jakarta jadi banyak informasi yang diterima. Ada yang bilang tidak perlu PCR, ada juga yang bilang perlu, karena daerah tujuan kami merupakan daerah yang menerapkan PPKM Darurat,” bebernya.

Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, mengatakan, saat ini memang masyarakat diharapkan bisa menunda perjalanan mereka ke luar Batam.

Adanya pemberlakuan PPKM Darurat guna menekan penyebaran angka kasus yang cukup tinggi di Jawa dan Bali.

”Sepertinya memang banyak yang menunda perjalanan. Karena memang kondisi saat
ini lebih baik untuk menahan diri dari pada berangkat keluar kota,” ujarnya.

Sebagai pemerintah, pihaknya mengimbau masyarakat untuk berfikir dua kali sebelum memutuskan untuk berpergian dalam masa PPKM Darurat ini.

Sementara itu, berdasarkan data dari Bandara Internasional Hang Nadim Batam mencatat terjadi penurunan aktivitas penumpang melalui bandara.

Setiap harinya, rata-rata penumpang yang berangkat hanya dua ribu orang perhari.
Selain penurunan jumlah penumpang, jumlah maskapai yang beroperasi juga turun
signifikan.

Seperti biasanya 20-25 maskapai beroperasi, saat ini hanya sekitar 10-15 maskapai yang masih beroperasi.(jpg)