batampos.co.id – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kepri, sependapat dengan Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, bahwa Kepri menjadi salah satu dari tujuh provinsi di Indonesia yang berpotensi mengalami lonjakan kasus Covid-19 akibat mutasi virus SARS-CoV-2 varian Delta B1617.

”Memang, secara pemeriksaan laboratorium, sejauh ini belum ada ditemukan varian Delta. Tapi, saya curiga (yang mengganas, red) saat ini varian Delta. Kita boleh dong curiga,” ujar Ketua IDI Kepri, dr Rusdani, Rabu (7/7).

Dugaan Rusdani bukan tanpa dasar. Penyebaran Covid-19 yang masih dan cepat di Batam maupun wilayah lainnya di Kepri begitu tinggi. Sesuai dengan karakter varian Delta yang bisa menyebar lebih cepat dari varian sebelumnya.


Sebelumnya, Menkes Budi Gunadi Sadikin, juga menyebutkan, varian Delta memiliki ciri khas, yakni tingkat penularan yang lebih cepat dan agresif dari varian Alfa B117 yang sudah lebih dulu diidentifikasi di Indonesia.

Namun begitu, meski angka kasus Covid-19 Batam terus meningkat tajam, Rusdani mengatakan belum terlambat memotong laju pertambahan pasien positif Covid-19. Pengetatan PPKM mikro, kata dia, wajib dijalankan pemerintah dan ditaati masyarakat. Apabila pemerintah mengawasi dengan baik dan masyarakat patuh aturan tersebut, ia yakin kasus Covid-19 dapat kembali turun.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kepri, M Bisri, tidak membantah atas dugaan IDI Kepri tersebut. Bahkan ia cenderung sependapat, meski belum ada data klinis yang menguatkan. ”Sejauh ini baru ada Covid-19 varian Alpha. Namun, varian ini penularannya cukup tinggi dibandingkan varian awal Covid-19 dari Tiongkok,” ujarnya, kemarin.

Varian Alpha maupun Delta, kata Bisri, memiliki karakter yang sama, yakni sama-sama cepat menular. Sehingga, varian ini perlu diwaspadai masyarakat. ”Kepada masyarakat, patuhi protokol kesehatan. Agar penularan Covid-19 dapat diminimalisir,” terangnya.

Sedangkan Didi Kusmarjadi yang juga Kepala Dinkes Batam, saat ditanya soal kemungkinan mengganasnya Covid-19 di Batam karena varian baru, ia mengatakan, yang bisa menentukan hanya Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) Kemenkes RI.

Kata Didi, sampel pasien yang meninggal dikirim ke Litbangkes untuk diteliti penyebab kematiannya apakah karena varian virus baru atau sebaliknya. ”Yang jelas pada saat meninggal itu mereka bergejala,” bebernya.(*/jpg)