batampos.co.id – Tingginya kasus positif Covid-19 di Batam beberapa bulan terakhir dengan mayoritas bergejala, juga diikuti dengan angka kematian harian yang semakin tinggi. Kondisi ini juga membuat pesanan peti mati khusus untuk pasien Covid-19 terus meningkat.

Salah satu warga yang belakangan ini menekuni usaha pembuatan peti mati di Blok ii/2 Perumahan Mediterania, Batam Kota, kebanjiran order peti mati khusus jenazah Covid-19. Bahkan, permintaan sudah tinggi sejak Ramadan ke-25 atau H-5 Lebaran.

”Saat pandemi hingga awal Mei, biasanya pembuat peti mati khsusus Covid-19 hanya 2-4 peti sebulan. Sekarang permintaan mengalami lonjakan drastis,” ujar Anto kepada Harian Batam Pos di bengkel kayunya, Jumat (9/7).


Anto pun berkejaran dengan waktu untuk menyelesaikan pesanan. Ia dibantu dua orang, anak laki-laki dan istrinya. Mereka menyelesaikan setiap pesanan di rumah berukuran 8×15 meter yang disulap jadi bengkel peti mati itu.

Peti mati ini umumnya dibuat dari kayu triplek. Bentuknya pun sederhana, namun tetap standar untuk jenazah Covid-19. Salah satunya, semua sisi tidak boleh ada celah sedikit pun yang memungkinkan cairan dari jenazah keluar.

Setelah kotak peti mati selesai dibuat, barulah dicat dan dijemur. Peti mati kemudian dilapisi kain putih di bagian dalam. Selain itu, dasarnya diberikan busa sepanjang 2 meter, lebar 60 sentimeter.

”Pembuatan satu peti mati ini memerlukan waktu 1 hingga 2 jam,” ujar Anto.

Peti mati yang dibuatnya, khusus untuk pasien Covid-19. Sehingga, secara tak langsung, ia mengetahui makin banyak masyarakat Batam yang meninggal akibat Covid-19.

Karena, setiap pekan permintaan peti mati terus meningkat. ”Kami ini pemasok satu-satunya peti mati khusus Covid-19 se Batam. Jadi, tahu berapa yang meninggal dari jumlah peti yang dipesan,” ungkapnya.

Ia mengatakan, sudah mengetahui ada peningkatan kasus kematian akibat Covid-19, jelang 5 hari sebelum Lebaran. Karena beberapa rumah sakit meminta pasokan peti lebih banyak dari biasanya. ”Ya, dulunya sebulan itu kami cuma siapin 4 peti aja. Tapi, sejak 5 hari jelang Lebaran hingga kini, jumlahnya seharinya sudah sangat banyak,” sebutnya.

Walaupun begitu, Anto mengaku masih bisa memenuhi permintaan Tim Gugus Tugas Covid-19 Batam. Peti mati buatan Anto dijemput setiap pagi dan malam hari. Kemudian, dibawa ke rumah sakit yang merawat pasien Covid-19 di Batam.

”Sekarang per harinya, saya kebut paling sedikit 10 peti mati,” tuturnya.(*/jpg)