batampos.co.id – Covid-19 masih menggila di Indonesia. Setiap hari puluhan ribu orang dinyatakan positif. Beruntung mereka yang tidak memiliki gejala berat dan bisa melakukan isolasi mandiri di rumah. Namun, bagi yang bergejala berat tentu penyakit ini menjadi ancaman serius, tak sedikit yang harus meregang nyawa.

Kondisi ini dialami oleh seorang pria berinisial E dengan usia sekitar 60 tahun. Warga Perumahan Lempongsari, Sleman, Jogjakarta itu dinyatakan meninggal setelah 3 hari terpapar Covid-19. Mirisnya, dia sama sekali tidak mendapat perawatan selama terpapar.

Akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta, Fahmy Radhi menceritakan kondisi E yang notabennya adalah tetangganya sebelum meninggal. Korban terkonfirmasi positif Covid-19 pada 9 Juli 2021. Keesokan harinya, korban keliling Jogjakarta untuk mencari rumah sakit. Namun, tak ada satu pun rumah sakit yang menerima.


Pada akhirnya, korban meninggal pada 11 Jui 2021 sekitar pukul 14.00 WIB. “Kondisi memburuk, sesak nafas dan saturasi 85. Dengan naik Grab, mencari Rumah Sakit di Jogjakarta, tapi tidak ada satu pun Rumah Sakit yang bisa merawat karena pasien penuh,” kata Fahmy kepada JawaPos.com, Senin (12/7).

Fahmy menuturkan, korban memang memiliki penyakit bawaan atau komorbid. Dia memiliki riwayat sakit diabetes, jantung dan stroke. Karena tak ada rumah sakit yang menampung, Fahmy hanya bisa membantu dengan meminjamkan tabung oksigen mini yang pernah dipakainya saat terpapar Covid-19.

Setelah diberi oksigen, saturasi korban mulai membaik. Namun, masalah muncul setelah oksigen habis. Keluarga korban sempat berusaha mencari pengisian ulang oksigen, namun tidak berhasil. Akibatna kondisi korban kembali memburuk.

Pihak Puskesmas setempat selaku Satgas Covid-19 juga tidak banyak membantu. Puskesmas hanya memberikan resep, namun obat yang hendak ditebus habis saat dicari di apotek. Nyawa korban akhirnya tidak dapat tertolong.

“Satgas Covid-19 tingkat RT baru bisa memakamkan jam 21.00 WIB. Sampai meninggal dunia, Satgas tidak datang. Baru pada saat pengurusan jenazah satgas yang melakukan, itu pun sudah jam 21.00,” jelas Fahmy.

Fahmy meminta kepada pemerintah agar lebih memperhatikan nasib warga supaya peristiwa semacam ini tidak terulang. Sebab, hal sepetti ini diperkiraka banyak terjadi juga di tempat lain.

“Pada saat rumah sakit, gas oksigen, dan obat dibutuhkan pasien Covid-19 habis, yang menyebabkan kematian rakyat, pejabat publik pusat dan daerah harus mengusahakannya dengan berbagai cara,” pungkasnya.(jpg)