Sesuai Surat Edaran (SE) Wali Kota Batam Nomor 32 Tahun 2021 tentang PPKM Darurat Di depan toko terlihat pengumuman tutup beroperasisementara hingga tanggal 20 Juli mendatang. Langkah ini diambil pemilik toko demi mematuhi edaran terkatit pembatasan selama penerapan PPKM darurat.

Tidak saja itu, lokasi kedai kopi dan foodcourt juga melakukan hal yang sama. Pengusaha makanan memilih menutup tempat usaha mereka.

Tidak hanya itu, beberapa usaha yang tetap memilih buka adalah para penjual buah, makanan ringan, serta minimarket.


Berdasarkan SE, sektor esensial diperbolehkan buka demi melayani kebutuhan warga Batam. Agung, salah seorang pemilik toko oleh-oleh Batam, mengatakan, tetap membuka toko dengan alasan harus menggaji karyawan. Sejak awal bulan lalu, sedikitnya empat karyawan sudah dirumahkan karena turunnya omzet akibat sepi pembeli.

“Karena yang kami jual juga oleh-oleh, saya rasa masih ada pembeli yang butuh cake (kue) atau dagangan yang saya jual di toko ini,” ujarnya seperti yang diberitakan Harian Batam Pos.

Meskipun mengalami penurunan, pihaknya tetap bertahan dan mempekerjakan dua pegawai.

“Mereka sudah ikut saya lama. Jadi, saya masih pertahankan meskipun kondisi sulit. Soal PPKM darurat, saya berharap cepat selesai. Karena kasihan kami pedagang ini. Saya sudah lengkapi protkes (protokol kesehatan), pembeli dicek suhu tubuh, pakai masker dan cuci tangan,” ujarnya.

Sementara beberapa restoran yang terpantau masih membuka usahanya di hari pertama PPKM darurat, juga memajang pemberitahuan hanya melayani pembelian secara bungkus atau take away.

Bahkan, guna menghindari terjaring razia dari Tim PPKM darurat, para pengusaha restoran juga terlihat memasang tali plastik di depan pintu masuk.

Bagi pengguna kendaraan, hanya diperbolehkan melewati jalan dari arah Jodoh ke arah Nagoya Hill.

Adapun, titik penyekatan dan pemeriksaan oleh tim dilakukan tepat di posko Satlantas di depan CIMB Niaga.

Selain itu, arus lalu lintas dari kawasan Nagoya Bumi Indah juga ditutup total, sehingga tidak bisa dilalui kendaraan apapun.

Sedangkan di Pasar Tos 3000, pengunjung turun drastis dan diperkirakan hingga 50 persen.

Rian, pedagang ayam di Pasar Tos 3000, mengatakan, di hari pertama PPKM darurat ia hanya melayani sekitar 100 pengunjung. Padahal, hari biasa pengunjung bisa pencapai 200-250 orang.

“Hari ini (kemarin) sangat sepi. Ramainya cuma sampai jam 6 pagi saja,” ujar Rian, Senin (12/7/2021) siang.

Rian mengaku, di hari pertama PPKM darurat ini, pengunjung didominasi pedagang eceran. Oleh karena itu, ia mengaku hanya mendapatkan omzet Rp 10 juta.

“Biasanya jual beli sampai Rp 20 juta. Yang belanja itu pedagang yang akan menjual kembali ayam ini. Bukan ibu-ibu rumah tangga,” katanya.

Rian menilai, sepinya pengunjung pasar pada PPKM darurat ini akan berimbas terhadap penurunan harga. Untuk saat ini, harga ayam ditawarkan Rp 38 ribu per kilogram.

“Pasti harga akan murah, sekarang saja pembeli yang juga pedagang eceran itu minta harga murah. Karena tidak ada pembeli,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Wati, pedagang sayuran. Ia mengaku dagangannya tidak habis terjual.

“Sampai siang ini (kemarin) masih banyak sayuran. Beda dengan kemarin, hari ini (kemarin) sepi sekali,” katanya.

Ia berharap, pemerintah tidak membatasi seluruh aktivitas masyarakat selama PPKM darurat. Sebab, pembatasan tersebut akan mempengaruhi pendapatan pedagang kecil.

“Kami jualan hanya mengharapkan untung sedikit. Berbeda dengan pedagang-pedagang besar,” tutupnya.(jpg)