batampos.co.id – Tingginya kasus positif di Kota Batam dibenarkan Wali Kota Batam, Muhammad Rudi. Kondisi ini, kata Rudi, membuat fasilitas di RS rujukan untuk penanganan pasien Covid-19 semakin terbatas.

Hal ini dibuktikan langsung Rudi saat meninjau ruang perawatan di RSUD Embung Fatimah, Batuaji, kemarin.

”Saya tadi sudah cek perkembangan pasien di rumah sakit ini (RSUD Embung Fatimah, red). Saat ini yang dirawat mencapai ratusan, dan itu bergejala semua. Kondisi ini sudah cukup mengkhawatirkan pastinya, jadi saya minta semua proteksi diri agar tidak terpapar virus ini,” kata Rudi, usai meninjau RSUD Embung Fatimah, kemarin.


Ia menjelaskan, berdasarkan laporan dari Direktur RSUD Embung Fatimah, jumlah pasien yang dirawat sudah mencapai 141 pasien, dari kapasitas ruang perawatan yang mencapai 189 pasien. Menurutnya, angka ini sudah cukup banyak dan ruang perawatan semakin menipis.

”Artinya, BOR (bed occupancy rate) sudah terisi lebih dari 70 persen. Makanya saya tanya tadi kemampuan rumah sakit dalam menampung pasien. Dan saya berharap mereka yang dirawat ini bisa sembuh dan kembali berkumpul dengan keluarga mereka.”

Ia menyatakan bahwa perkembangan Covid-19 di Kota Batam makin mengkhawatirkan. Rumah sakit rujukan rata-rata sudah tidak mampu menampung pasien. Tenaga medis juga mulai kelelahan menangani pasien yang tidak kunjung turun.

”Kalau dulu banyak yang tidak bergejala, sehingga persentase kesembuhan bisa naik. Kondisi saat ini berbeda, lebih 50 persen bergejala, dan ini membuat daya tampung rumah sakit penuh,” tambahnya.

Rudi mengatakan, sembilan hari ke depan akan dilihat kembali perkembangannya. Diharapkan kasus turun, dan kondisi bisa menjadi lebih baik. Saat ini, peralatan medis sudah tidak sanggup lagi, jika penambahan kasus positif bergejala masih terus terjadi.

”Setahun empat bulan sudah cukup saya rasa. Makanya, penerapan PPKM darurat diharapkan bisa membuat masyarakat membatasi mobilitas dan mengurangi kerumunan. Tidak lupa mematuhi protkes. Tujuannya hanya satu agar kasus landai, sehingga aturan ini segera dicabut,” tuturnya.

Rudi menegaskan, penyekatan hanya bertujuan untuk mengurangi mobilitas masyarakat agar tidak melakukan perjalanan yang tidak penting. ”Ingat yang tidak penting saja ya. Kalau mereka ingin berbelanja kebutuhan tetap diperbolehkan melintas. Tujuan kita untuk membatasi pergerakan,” ucapnya.

Selain itu, Rudi kembali menegaskan bahwa kebutuhan komoditas bahan pangan aman. ”Stok cukup. Jangan ada yang menyetok berlebihan. Itu tidak diperbolehkan dan melanggar. Jangan panik,” tegasnya.(*/jpg)