batampos.co.id – Lockdown tidak selamanya berdampak buruk. Sisi baiknya bisa dilihat dari peningkatan ekspor Batam pada semester awal 2021. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Batam, neraca perdagangan hingga Mei 2021 surplus 75,10 juta dolar Amerika Serikat (AS).

Surplus tersebut berasal dari nilai ekspor Batam hingga Mei sebesar 937,37 juta dolar AS, dikurangi nilai impor sebesar 862,27 juta dolar AS. Ekspor terbesar disumbangkan nonmigas sebesar 833,25 juta dolar AS. Komoditas ekspor tertinggi yakni mesin peralatan listrik senilai 310,47 juta dolar AS.

Negara tujuan ekspor utama yakni Singapura dengan persentase 41,56 persen, Amerika 18,94 persen, dan Tiongkok 7,33 persen.


Wakil Ketua Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri, Tjaw Hioeng, mengatakan, ekspor sepanjang 2021 menunjukkan kestabilan tinggi di antara lima tahun terakhir. ”Pandemi ini seperti dua sisi mata uang. Di satu sisi, banyak kasus terkonfirmasi, tapi di sisi lain ekspor kita meningkat,” tuturnya, kemarin.

Penyebab peningkatan ekspor terjadi karena lockdown negara-negara tetangga yang merupakan pesaing seperti Filipina, Myanmar, Kamboja, dan lainnya. ”Sister company mereka di sana lagi lockdown, jadi tak bisa lakukan kegiatan apapun. Sehingga ordernya itu datang ke daerah yang masih bisa beroperasi seperti Batam. Makanya sekarang kita malah kebanjiran order,” ungkapnya.

Peningkatan produksi industri manufaktur yang berdampak pada peningkatan ekspor, juga menyebabkan kegiatan bongkar muat di pelabuhan peti kemas di Batam juga meningkat. Kegiatan bongkar muat di Pelabuhan Batuampar mengalami kenaikan pada semester I 2021. Persentase kenaikan sebesar 18 persen, yakni dari 261.394 TEUs di semester I 2020 menjadi 307.785 TEUs.

”Meski seluruh sektor lumpuh akibat pandemi, kenaikan volume bongkar muat peti kemas ini cukup bagus. Peningkatan ini terjadi karena ekspor yang meningkat sebesar 36 persen,” kata Direktur Badan Usaha Pelabuhan (BUP) Badan Pengusahaan (BP) Batam, Nelson Idris, kemarin.

Kenaikan ekspor Batam bisa terlihat dari jumlah muatan ekspor senilai 239.061 TEUs yang terjadi pada semester awal 2021. ”Meningkat 36 persen dibandingkan semester awal tahun lalu sebesar 174.543 TEUs,” papar Nelson.

Nelson mengatakan, jumlah kunjungan kapal barang di semester I ini juga mengalami peningkatan sebesar 1,1 persen dibandingkan periode yang sama di tahun 2020, yakni dari 11.507 call menjadi 11.637 call kapal. Dari sisi Gross Tonase (GT) juga terjadi peningkatan cukup signifikan yakni sebesar 17,7 persen dibandingkan periode yang sama di tahun 2020, dari 17.695.630 GT ke 20.829.205 GT.

“Hal ini menunjukkan bahwa kapal-kapal yang datang ke wilayah perairan Batam cenderung berbobot besar yang dapat dilihat dari GT kapal. Kita harapkan volume bongkar muat dan arus kapal terus meningkat sehingga di semester II nanti kita dapatkan pencapaian yang lebih menggembirakan,” imbuhnya.

Peningkatan volume produksi di pelabuhan barang ini turut berimbas pada pendapatan yang diperoleh BUP. Nelson mengatakan bahwa pendapatan di pelabuhan bongkar muat pada semester I 2021 meningkat 27.9 persen dibandingkan periode yang sama di tahun 2020.

Untuk saat ini, kegiatan Ship to Ship-Floating Storage Unit (STS-FSU) menjadi salah satu fokus BP Batam dalam meningkatkan potensi pendapatan negara yang selama ini belum tergarap. Nelson menyebut, ada potensi pendapatan yang luar biasa dari kegiatan SSTS-FSU tersebut.

”Dalam kegiatan ini, BP Batam melalui unit Badan Usaha Pelabuhan dapat memperoleh penerimaan negara dalam bentuk biaya labuh, bongkar muat dan throughput fee,” paparnya. (*/jpg)