batampos.co.id – Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polresta Barelang menangkap sindikat pemalsuan dokumen atau sertifikat vaksin.

Dalam sehari, pelaku bisa meraup untung hingga Rp 5 juta. Kelima pelaku, yakni; LC (26), FM (23), HP (31), RA (19),
RR (18) dan AA (22).

Wakasat Reskrim Polresta Barelang, AKP Juwita Oktaviani, mengatakan, enam tersangka ini merupakan relawan saat pelaksanaan vaksinasi massal di Sport Hall Temenggung Abdul Jamal.


”Yang bersangkutan ini merupakan relawan validator yang direkrut Dinkes. Modusnya menawarkan ke masyarakat yang ingin membuat sertifikat tanpa vaksin. Jadi, mereka punya username sama password untuk mengakses penginputan data di puskesmas,” ujar Juwita di Mapolresta Barelang, Kamis (15/7/2021).

Ia menjelaskan, terungkapnya kasus ini berawal adanya laporan dari Puskesmas Cate, Kecamatan Galang, yang menjadi salah satu
titik pelaksanaan vaksinator untuk kegiatan vaksinasi dari Dinas Kesehatan pada Selasa (6/7/2021).

Wakasat Reskrim Polresta Barelang, AKP Juwita Oktaviani, menginterogasi pelaku pemalsuan sertifikat vaksin di Mapolresta Barelang, Kamis (15/7/2021) siang. Foto: Yofi/Batam Pos

Puskesmas ini menggunakan 102 vial vaksin Covid-19. Dari 102 vial tersebut, seharusnya jumlah masyarakat yang divaksin sebanyak 1.020 orang.

Sebab, 1 vial diperuntukkan untuk 10 orang.

”Ternyata jumlah yang masuk ke database sebanyak 1.052, sehingga terjadi selisih data,” kata Juwita.

Keliimanya memiliki peran berbeda. LC dan FM bertugas penginput data, dan tiga pelaku lainnya mencari warga yang ingin mendapat sertifikat tanpa harus disuntik vaksin.

Dari tangan pelaku, polisi menyita barang bukti yakni 43 lembar kartu vaksinasi, 11 unit ponsel, delapan sertifikat vaksin, dan dua unit laptop.

”Rata-rata pelaku ini masih mahasiswa. Jadi mereka daring dan kerja sampingan sebagai relawan,” ungkapnya.

Dari pengakuan LC, dalam sehari ia bisa meraup keuntungan Rp 5 juta. Untuk satu sertifikat vaksin, ia meminta bayaran Rp 250-300 ribu.

”Tergantung banyak permintaan. Tapi rata-rata Rp 5 juta sehari. Uangnya dibagi rata,” katanya.

Atas perbuatannya, para tersangka, dijerat Pasal 263 KUHP ayat (1) jo pasal 64 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) KUHP, dengan ancaman paling lama 6 tahun penjara.(jpg)