batampos.co.id – Analisa Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kepri bahwa Covid-19 yang mengganas di Kepri adalah varian baru, benar adanya. Beberapa sampel yang dikirim Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BTKLPP) Batam ke Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sudah keluar hasilnya. Ditemukan varian Delta di Batam dan varian Alpha di Tanjungpinang.

”Sudah terima kemarin (Senin, 19/7, red). Dari 474 sampel yang kami kirim, dua dinyatakan positif varian terbaru. Alpha dan Delta. Alpha sampel dari Tanjungpinang dan Delta sampel dari Batam,” ujar Kepala BTKLPP Batam, Budi Santosa, Selasa (20/7).

Sebelumnya, Litbangkes Kemenkes juga sudah menemukan varian Alfa di Batam, jauh sebelum hasil pengiriman sampel kedua yang menemukan varian Alfa dan Delta ini keluar.


Temuan dua varian terbaru di Kepri ini mengharuskan seluruh Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid Kota Batam bekerja lebih giat lagi, demi memutuskan mata rantai penyebaran kedua varian baru tersebut. Dua varian terbaru ini dianggap lebih mudah menyebar.

Varian Alpha 50 persen lebih menular dari virus corona asli yang pertama kali diidentifikasi di Tiongkok pada 2019. Sedangkan varian Delta sekitar 50-60 persen lebih menular dibanding varian Alpha.

Gejala varian Delta mirip dengan yang terlihat pada jenis virus corona asli dan varian lainnya, termasuk batuk terus menerus, sakit kepala, demam, dan sakit tenggorokan. Namun, gejala umumnya; sakit kepala, sakit tenggorokan, pilek, dan demam. Sedangkan gejala kurang umum; batuk dan kehilangan penciuman.

Varian Alpha atau B.1.1.7 pertama kali ditemukan di London dan beberapa wilayah di Inggris. Sementara varian Delta B.1.617.2) pertama kali ditemukan di India. Varian ini juga mampu menghindari respons imun tubuh akibat mutasi yang terjadi.

Tak hanya itu, varian Delta juga memiliki risiko perawatan yang dua kali lebih tinggi dari varian lain, sehingga potensi kematian terbilang besar. ”Dari kami sendiri (BTKLPP Batam, red) akan terus mengumpulkan sampel yang dicurigai terpapar varian terbaru untuk diperiksa lebih lanjut bersama Litbangkes,” ujar Budi.

Terkait temuan dua varian baru ini, IDI Kepri menduga varian ini telah menyebar masif di Batam. Karena jangka pengambilan sampel dan keluar hasilnya cukup panjang. Selain itu, hal ini dapat dilihat dari peningkatan kasus yang cukup drastis di Batam. Bahkan, Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat yang telah berlangsung sepekan juga tak membuat kasus positif menurun.

”Bukan tidak mungkin (varian, red) Delta ini sudah lama. Kenaikan (kasus) di Batam akhir-akhir jauh banget. Beberapa kali lipat,” kata Ketua IDI Kepri, dr Rusdani, kemarin.

Rusdani juga membenarkan, Covid-19 jenis Delta diketahui 60 persen lebih menular dibandingkan varian lainnya. Itu sebabnya, varian baru ini sangat berbahaya. Apalagi jika menular ke pasien yang memiliki komorbid atau penyakit bawaan yang akut, potensi meninggal menjadi besar.

Bahkan, selain terjadi peningkatan kasus, juga tercatat ada peningkatan jumlah kematian sehingga semakin menguatkan analisa Rusdani bahwa penyebabnya adalah varian baru tersebut.

Berdasarkan data yang dimiliki IDI Kepri, akhir Juni jumlah kematian di angka 2,2 persen saja. Tapi, saat ini, angka kematian berada di 2,32 persen. ”Walaupun cuman 0,1 persen naiknya, jangan disepelekan. Kenaikan ini sangat bermakna,” tegasnya.(*/jpg)