batampos.co.id – Fenomena pengaruh lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) yang diungkap KSAL Laksamana TNI Yudo Margono pada akhir Juni lalu mendapat sorotan dari Psikolog klinis dan forensik, Kasandra Putranto.

Kasandra Putranto mengatakan, ancaman pemecatan terhadap prajurit dari TNI karena terpengaruh LGBT harus dihormati dan diapresiasi. TNI atau militer sangat menjunjung tinggi nilai-nilai moral. Maka dari itu, pelanggaran moral apa pun dapat berisiko pemecatan. Prasyarat TNI harus terbebas dari LGBT harus diapresiasi.

“Pada dasarnya setiap profesi memang memiliki standar tertentu yang harus dipenuhi. Apalagi profesi penting dan kritikal, seperti pilot, tentara, polisi, dokter dan lain-lain. Persyaratannya tentu tergantung kebutuhan kerja di lapangan yang berbeda beda,” ujar Kasandra Putranto di Jakarta, Jumat (23/7).

Hanya saja, kata Kasandra, saat ini LGBT masih berada di luar persyaratan utama menjadi TNI, pilot, dan polisi. Berbeda dengan buta warna yang memang sudah menjadi prasyarat utama. Jika militer atau pun pilot tidak bisa membedakan warna, hal itu akan berdampak fatal.

Dia mendorong TNI/Polri menjadikan terbebas dari pengaruh LGBT sebagai syarat utama untuk seleksi. Supaya profesi kritikal itu benar-benar bersih dari ancaman tindakan penyimpangan moral tersebut.

Sebelumnya, KSAL Laksamana TNI Yudo Margono mengeluarkan ancaman keras terhadap taruna-taruni akademi angkatan laut (AAL) jangan main-main dengan pengaruh LGBT. “Ancamannya adalah pemecatan dari kedinasan,” kata Yudo. Penegasan itu disampaikan saat memberi pembekalan kepada taruna-taruni AAL ke-66 di Kesatrian ALL, Bumimoro, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (23/6).

Yudo mengatakan bahwa saat ini terjadi degradasi moral secara nyata di kalangan generasi muda. “Gerakan kaum LGBT sangat bertentangan dengan nilai-nilai luhur agama dan ideologi negara. Hal ini merupakan ancaman moral yang belakangan harus dihadapi,” kata Yudo.

Selain terpengaruh LGBT, ancaman pemecatan dari kedinasan juga diberikan kepada prajurit jika mental juangnya tidak sesuai dengan ideologi negara, Sapta Marga, Sumpah Prajurit, 8 Wajib TNI, Trisila TNI Angkatan Laut dan Hree Dharma Shanty.

Yudo meminta setiap lulusan AAL harus memiliki karakter yang kuat dan kemampuan memimpin, serta kompetensi sebagai tentara profesional. Kekompakan antarprajurit harus dijaga agar bisa saling mengingatkan satu sama lain.

“Jangan hanya karena jabatan kalian saling menjatuhkan satu sama yang lain. Sulit mencapai sukses tanpa saling membantu. Kalian harus kuat dari sekarang, tantangan jaman kalian jauh lebih berat daripada jaman saya, maka dari itu kalian harus bersama-sama bahu membahu dan saling membantu,” kata dia.(jpg)