batampos.co.id – Akhir-akhir ini, cuaca Batam terasa semakin panas dan gerah. Hujan pun jarang turun, jikapun turun hanya sebentar dan tidak deras. Penjelasan Koordinator Bidang Data dan Informasi Stamet Hang Nadim, Suratman, menyatakan, penyebabnya adalah minimnya awan di langit Batam.

“Tutupan awannya sedikit dan kelembaban yang rendah. Kami mencatat suhu tertinggi 31 derajat celcius,” kata Suratman, Senin (26/7).

Sinar matahari langsung ke permukaan bumi tanpa ada saringan dari awan yang biasanya berlimpah di atas langit Batam. Sinar matahari yang terasa terik ditambah dengan penguapan yang tinggi. Sehingga menyebabkan terasa gerah dan panas di siang hingga malam hari.

“Saat ini memasuki periode curah hujan yang cukup minim, dan biasa terjadi dalam setiap tahunnya,” ungkapnya.

Suratman memprediksi kondisi seperti ini akan berlangsung hingga akhir November. Tapi, kemungkinan hujan tetap ada, namun sifatnya lokal dengan intensitas rendah. “Hujan tidak lama, hanya spot-spot kecil dan tidak merata,” ucapnya.

Kondisi ini dapat berubah jika terjadi siklon tropis di sekitar Kepri seperti Laut cina Selatan atau Selat Malaka. Saat terjadi siklon dapat meningkatkan kelembaban hujan, dan potensi tumbuhnya awal komulunimbus juga tinggi.

“Siklon memberikan pengaruh cukup tinggi terhadap Batam, curah hujan akan tinggi. Namun, kondisi ini tidak berlangsung lama, hanya sekitar semingguan saja,” ucapnya.

Suratman mengimbau masyarakat mewaspadai timbulnya hotspot. Ia berharap masyarakat tidak membakar sampah di hutan atau membuka lahan dengan cara dibakar.

“Cuaca terik, jaga tubuh jangan sampai dehidrasi. Apalagi di tengah pandemi, sering-sering konsumsi air putih,” pungkasnya. (*/jpg)