batampos.co.id – Pandemi Covid-19 mengubah preferensi masyarakat dalam bertransaksi.

Perubahan preferensi tersebut terjadi karena masyarakat lebih suka bertransaksi secara nontunai.

Fakta tersebut tercermin dari jumlah aliran uang kartal keluar
(outlflow) di Kepri pada awal 2021 lalu.

”Jumlah outflow di Kepri mengalami penurunan. Tercermin dari kontraksi jumlah outflow yang meningkat menjadi sebesar 34,62 persen (yoy), dari sebelumnya yang terkontraksi 16,93 persen (yoy),” kata Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri, Musni
Hardi, baru-baru ini.

Jumlah outflow selama triwulan pertama 2021 tercatat sebesar Rp 1,27 triliun, lebih rendah dibandingkan outflow pada triwulan IV 2020 yang berjumlah Rp 2,96 triliun.

Pada periode yang sama, jumlah aliran uang kartal masuk (inflow) selama triwulan pertama 2021 mencapai Rp 2,11 triliun, lebih tinggi dibandingkan inflow pada triwulan sebelumnya yang berjumlah Rp 1,19 triliun.

”Penurunan kebutuhan uang tunai di masyarakat dipengaruhi oleh perubahan preferensi masyarakat dalam menggunakan kanal pembayaran ke transaksi nontunai dan digital yang semakin meningkat sejak pandemi Covid-19,” tuturnya.

Seiring dengan perkembangan ekonomi dan keuangan digital, BI memang mendorong penggunaan uang elektronik (UE) lewat penggunaan Quick Response code Indonesia Standart (QRIS).

”Jumlah transaksi UE di Kepri pada triwulan pertama 2021 sebesar Rp 485,26 miliar, lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar Rp 166,8 miliar,” jelasnya.

Peningkatan transaksi UE ini seiring dengan adanya pembatasan aktivitas di luar rumah dan untuk mengantisipasi penyebaran virus melalui uang tunai selama pandemi Covid-19.(jpg)