batampos.co.id – Pandemi Covid-19 menjadi tantangan bagi semua pihak. Tidak hanya tenaga medis, ada sejumlah orang yang bekerja keras sepanjang waktu pada masa pandemi virus corona.

Mereka adalah para petugas pemakaman jenazah Covid-19. Sehari-hari mereka bertugas menyiapkan lubang makam bagi korban Covid-19 dengan protokol kesehatan (protkes) yang ketat.

Dalam sehari mereka bisa menggali belasan lubang, tergantung dari jumlah kematian hari itu.

Joko, penggali kubur bagi korban Covid-19, mengatakan, sehari, ia bersama rekannya bisa menggali hingga 18 liang kubur.

Bahkan, saking banyaknya angka kematian saat itu, ia terpaksa meminta bantuan alat berat.

”Rata-rata belasan lubang setiap harinya,” ujar Joko yang juga kordinator lapangan petugas di TPU Sei Temiang, Selasa (27/7/2021).

Dia tak menampik bahwa dirinya selalu merasa takut terpapar membawa virus ke lingkungan keluarga.

Namun, lantaran ini sebuah pekerjaan yang harus diselesaikan,
maka ketakutan itu selalu dikesampingkan.

”Takut pasti ada, tapi ya gimana lagi, resiko pekerjaan, dan kami juga sudah antisipasi dengan menjalankan protkes,” ungkap Joko.

Selain itu, menurutnya, jenazah yang telah dibawa ke permakaman telah melewati protokol yang ketat termasuk terbungkus secara rapi.

”Ya kita berdoa aja, semoga selalu dijauhkan dari virus ini,” tuturnya.

Joko menyebutkan, sejak awal Juli 2021, angka kematian akibat Covid-19 meningkat dibanding bulan-bulan sebelumnya.

Bahkan, sepanjang tiga pekan terakhir, ia ber-sama rekan-rekannya menggali ratusan lubang.

”Ini bulan Juli belum habis namun jumlahnya sudah sangat banyak. Kemarin kami sampai minta bantuan alat berat,” katanya.

Bahkan proses penggalian liang kubur ini tidak hanya dilakukan siang hari. Jika masih ada jenazah yang akan dimakamkan, walaupun itu sudah malam hari, maka petugas mau tak mau harus tetap menggali.

”Di sini ada delapan orang, kalau lubang gak cukup sementara masih ada yang dimakamkan, tetap harus digali,” bebernya.

Pantauan Batam Pos di TPU Sei Temiang, Blok R jadi kuburan khusus untuk jenazah Covid-19.

Blok R berdiri di atas lahan sekitar 1 hektare itu kondisinya sudah hampir penuh. Liang kubur berjejer rapi lengkap dengan batu
nisan masih tampak dengan kondisi tanah yang masih merah.

Sejumlah keluarga korban Covid-19 tampak berziarah. Mereka berdoa sambil meletakkan bunga di atas makam.

Bahkan ada pula peziarah yang meletakkan rumput dan papan kayu di atas makam saudaranya.

”Baru meninggal tiga hari yang lalu, ayah saya memang punya penyakit diabetes dan sekarang sudah tak sakit lagi,” ujar peziarah di makam Covid Temiang.

Diakuinya, hampir setiap hari ia bersama saudara perempuannya mendatangi makam ayahnya.

Bahkan bagi adik perempuannya belum merelakan kepergian ayahnya.

”Ya karena mendadak, keluarga masih bersedih dan belum percaya,” tutur pria yang tidak mau disebutkan namanya itu.